Tangerang (ANTARA) - Konsultan Gastroenterohepatologi Anak Eka Hospital MT Haryono dr. Eva Jeumpa Soelaeman meminta orang tua tidak membiarkan anak ikut mengkonsumsi makanan pedas yang viral tanpa panduan karena bisa mengganggu pencernaan dan tumbuh kembang.
"Jangan karena pengaruh gaya hidup dan mencoba makanan pedas yang viral, membuat kesehatan anak terganggu. Bahkan, tumbuh kembangnya jadi terganggu," kata dr. Eva Jeumpa Soelaeman di Tangerang, Rabu.
Ia mengatakan, sistem pencernaan anak memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap infeksi, alergi, dan kelainan struktural. Ada beberapa penyakit yang kerap menyerang anak dari salah konsumsi seperti sakit perut berulang, mual, sulit buang air besar (BAB), atau berat badan yang tidak kunjung naik.
"Sistem pencernaan anak belum sematang orang dewasa. Jika anak mengalami kondisi tersebut, segeralah berkonsultasi dengan dokter gastro anak karena dokter spesialis ini memahami sistem pencernaan anak secara mendalam," ujarnya.
Baca juga: Dokter tekankan pentingnya prebiotik bagi saluran cerna anak
Menurut dr. Eva, dokter gastro anak atau dokter spesialis anak konsultan gastroenterohepatologi adalah dokter spesialis anak yang telah menempuh pendidikan subspesialisasi khusus untuk mendiagnosis, mengobati, dan mengelola gangguan pada seluruh sistem pencernaan, mulai dari kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, serta organ hati (liver) dan pankreas pada bayi, anak-anak, hingga remaja.
Beberapa penyakit yang dapat ditangani oleh dokter gastro anak antara lain gangguan saluran cerna atas dan gejala umum, GERD, kesulitan menelan, muntah berulang & muntah darah, sakit perut, masalah berat badan, gangguan makan, infeksi dan radang pencernaan kronis, kelainan hati dan empedu anak.
Untuk melihat kondisi bagian dalam saluran cerna secara langsung pada anak, dokter biasanya melakukan tindakan endoskopi yakni menggunakan selang fleksibel tipis yang dilengkapi kamera kecil (endoskop).
Baca juga: Dokter: Pengenalan ragam rasa penting untuk pola makan anak
"Meskipun prinsip kerjanya sama dengan orang dewasa, endoskopi pada anak memiliki perbedaan dari ukuran alat, bius lokal hingga tim medis khusus," ujarnya.
"Jangan karena pengaruh gaya hidup dan mencoba makanan pedas yang viral, membuat kesehatan anak terganggu. Bahkan, tumbuh kembangnya jadi terganggu," kata dr. Eva Jeumpa Soelaeman di Tangerang, Rabu.
Ia mengatakan, sistem pencernaan anak memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap infeksi, alergi, dan kelainan struktural. Ada beberapa penyakit yang kerap menyerang anak dari salah konsumsi seperti sakit perut berulang, mual, sulit buang air besar (BAB), atau berat badan yang tidak kunjung naik.
"Sistem pencernaan anak belum sematang orang dewasa. Jika anak mengalami kondisi tersebut, segeralah berkonsultasi dengan dokter gastro anak karena dokter spesialis ini memahami sistem pencernaan anak secara mendalam," ujarnya.
Baca juga: Dokter tekankan pentingnya prebiotik bagi saluran cerna anak
Menurut dr. Eva, dokter gastro anak atau dokter spesialis anak konsultan gastroenterohepatologi adalah dokter spesialis anak yang telah menempuh pendidikan subspesialisasi khusus untuk mendiagnosis, mengobati, dan mengelola gangguan pada seluruh sistem pencernaan, mulai dari kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, serta organ hati (liver) dan pankreas pada bayi, anak-anak, hingga remaja.
Beberapa penyakit yang dapat ditangani oleh dokter gastro anak antara lain gangguan saluran cerna atas dan gejala umum, GERD, kesulitan menelan, muntah berulang & muntah darah, sakit perut, masalah berat badan, gangguan makan, infeksi dan radang pencernaan kronis, kelainan hati dan empedu anak.
Untuk melihat kondisi bagian dalam saluran cerna secara langsung pada anak, dokter biasanya melakukan tindakan endoskopi yakni menggunakan selang fleksibel tipis yang dilengkapi kamera kecil (endoskop).
Baca juga: Dokter: Pengenalan ragam rasa penting untuk pola makan anak
"Meskipun prinsip kerjanya sama dengan orang dewasa, endoskopi pada anak memiliki perbedaan dari ukuran alat, bius lokal hingga tim medis khusus," ujarnya.






Komentar (0)