Investor Masih Buru Aset Safe Haven, Rupiah Kian Tertekan Dekati Rp18.000 per Dolar AS

medcom.id
12 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan pagi ini. Mata uang Garuda melemah hingga mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS, seiring meningkatnya permintaan investor terhadap aset aman (safe haven) di tengah ketidakpastian ekonomi global.
 
Berdasarkan data pasar pagi Rabu, 22 Juli 2026, mata uang paman sam  naik 0,30 persen atau sekitar 54,2 poin ke level Rp17.909,9 per dolar AS. Di saat yang sama, harga emas dunia (XAU/USD) melonjak 1,08 persen atau 43,97 poin ke posisi US$4.121,78 per troy ounce. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya minat investor untuk mengalihkan dana ke aset yang dinilai lebih aman.
  Baca juga: Rupiah Melemah ke Rp17.890 per Dolar AS, Mayoritas Mata Uang Global Menguat
Menariknya, pelemahan rupiah terjadi ketika Indeks Dolar AS (DXY) justru turun tipis 0,02 persen ke level 101,015. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah tidak semata dipengaruhi penguatan dolar AS secara global, tetapi juga dipicu sentimen domestik dan regional, termasuk potensi keluarnya arus modal dari pasar keuangan.
 
Tekanan terhadap rupiah juga terlihat pada pergerakannya terhadap sejumlah mata uang utama. Terhadap euro, rupiah bergerak stagnan di level Rp20.446 per euro. Sementara itu, rupiah hanya mencatat penguatan tipis terhadap won Korea Selatan dengan naik 0,06 persen ke level Rp12,09 per won, sehingga rupiah sedikit lebih kuat dibandingkan mata uang Negeri Ginseng tersebut.

Sebaliknya, rupiah melemah terhadap sejumlah mata uang kawasan Asia. Terhadap yen Jepang, rupiah turun 0,02 persen ke level Rp109,76 per yen. Rupiah juga melemah 0,03 persen terhadap dolar Singapura menjadi Rp13.860,43 per dolar Singapura.
 
Pelemahan yang lebih besar terjadi terhadap yuan Tiongkok dengan turun 0,08 persen ke level Rp2.645,52 per yuan. Adapun terhadap ringgit Malaysia, rupiah mencatat pelemahan terdalam di antara mata uang regional lainnya, yakni sebesar 0,23 persen ke level Rp4.371,17 per ringgit.
 
Secara keseluruhan, pergerakan tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih cukup kuat, meski indeks dolar AS tidak mengalami penguatan signifikan. Pelaku pasar kini menantikan perkembangan kebijakan suku bunga bank sentral global serta rilis data ekonomi yang diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan nilai tukar dalam beberapa hari ke depan.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Rektor ITPLN Meluncurkan Buku Transisi Energi, Dorong Lahirnya Generasi Penjaga Bumi
• 5 jam lalu
0
thumb
Menkum: Pengesahan kerja sama RI-Turkiye-Malaysia perkuat dasar hukum
• 13 jam lalu
0
thumb
Calon Suami Yakin Jesslyn Dibawa Paksa: Ada 5 Orang Berbadan Besar dan Tinggi
• 17 jam lalu
0
thumb
Banjarnegara mitigasi antisipasi Waduk Mrica jebol dengan KENCANA
• 19 jam lalu
0
thumb
PWI Desak Hotman Paris Tetap Diproses Hukum Meski Minta Maaf
• 5 jam lalu
0
Berhasil disimpan.