Pantau - PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) terus memanfaatkan limbah organik dan anorganik sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan lingkungan berkelanjutan di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, melalui penerapan prinsip ekonomi sirkular dan environmental, social and governance (ESG).
Pemanfaatan Limbah Capai 30,8 TonDeputi Direktur Operasional PT IMIP Yulius Susanto mengatakan perusahaan mencatat pemanfaatan limbah organik dan anorganik sebanyak 30,8 ton pada periode Januari hingga Mei 2026.
"Pada periode Januari hingga Mei 2026 IMIP mencatat pemanfaatan limbah organik dan anorganik sebanyak 30,8 ton," ungkap Yulius.
Jumlah tersebut setara dengan 5,6 persen dari total 549 ton timbulan limbah yang terdiri atas 74,68 persen limbah organik, 10,26 persen limbah anorganik, dan 15,06 persen limbah residu.
IMIP menerapkan prinsip ekonomi sirkular dengan memanfaatkan limbah dari satu lini produksi sebagai bahan baku bagi lini produksi lainnya di kawasan industri berbasis nikel seluas sekitar 4.000 hektare.
"Sementara efisiensi energi dan pemantauan lingkungan dapat dilakukan secara terpusat," ujar Yulius.
Perusahaan juga mengoperasikan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang terintegrasi dengan sistem pemantauan Kementerian Lingkungan Hidup sehingga kualitas air limbah dapat dipantau secara transparan dan real time.
Dorong Dekarbonisasi dan Energi TerbarukanIMIP menyebut implementasi kerangka ESG telah dijalankan sejak 2024 sebagai bagian dari penerapan tata kelola perusahaan yang transparan dan bertanggung jawab.
Hingga akhir 2025, kawasan IMIP telah mengoperasikan 502 unit kendaraan listrik, termasuk dump truck dan alat berat, serta menambah 207 unit bus listrik pada Mei 2026 untuk transportasi karyawan.
Perusahaan juga mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 200 Megawatt Peak (MWp) yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027, selain memanfaatkan waste heat power generation, tenaga air, dan biomassa.
Head of Environment Department PT IMIP Yundi Sobur mengatakan perusahaan turut menerapkan dekarbonisasi melalui penggunaan baja daur ulang sebagai bahan baku untuk menekan emisi karbon.
"Upaya ini meliputi pemanfaatan battery energy storage system, belt conveyor, slurry pipeline serta pengembangan sumber energi ramah lingkungan," ujar Yundi.





Komentar (0)