Konflik Amerika Serikat dan Iran mulai memberikan beban besar terhadap anggaran pertahanan dari Negeri Paman Sam. Negara tersebut mengungkapkan bahwa perang yang sedang berlangsung telah menelan biaya sekitar US$37,5 miliar atau setara Rp671,475 triliun (kurs sekitar Rp17.906 per dolar AS).
Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth menjelaskan nilai tersebut tidak hanya mencakup biaya operasi militer yang sudah dikeluarkan, tetapi juga proyeksi pengeluaran hingga berakhirnya tahun fiskal pemerintah pada 30 September 2026.
Baca Juga: Iran Bongkar Permainan Diplomasi Amerika Serikat: Mereka Pikir Kami Sebodoh Mereka
"US$37,5 miliar," jawab Hegseth dikutip Rabu (22/7/2026).
Menurut Hegseth, besarnya biaya perang berasal dari berbagai komponen, mulai dari operasional militer hingga pembayaran personel. Hal itu disampaikkan saat rapat dengan Komite Alokasi Anggaran Senat Amerika Serikat
"Sebagian dari angka tersebut mencakup tambahan biaya operasi dan pemeliharaan (O&M), gaji militer serta biaya lain yang diperkirakan akan muncul hingga akhir tahun fiskal," ujar Hegseth/
Ia menegaskan bahwa perhitungan tersebut telah memasukkan pengeluaran yang diperkirakan masih akan terus berjalan dalam beberapa bulan ke depan.
"Jadi sebagian dari angka itu juga mengantisipasi biaya-biaya yang akan dikeluarkan pada masa mendatang," katanya.
Pengungkapan angka tersebut menjadi gambaran besarnya konsekuensi finansial yang harus ditanggung Amerika Serikat di Perang Iran.
Selain biaya operasi militer, pemerintah terkait juga harus mengalokasikan anggaran besar untuk menjaga kesiapan personel, logistik serta berbagai kebutuhan operasional lainnya.
Dengan tahun fiskal yang masih berlangsung hingga akhir September, nilai US$37,5 miliar yang telah dipaparkan berpotensi masih bertambah apabila operasi militer terus berlanjut di Timur Tengah.
Baca Juga: Dilepas Prabowo, Nanik S Deyang Ngaku Trauma Urus Duit MBG
Kondisi ini membuat perang tidak hanya menjadi tantangan di bidang keamanan, tetapi juga memberikan tekanan besar terhadap anggaran pertahanan di tengah meningkatnya kebutuhan belanja militer di berbagai kawasan dunia.






Komentar (0)