Jakarta, CNBC Indonesia - Kekayaan Larry Ellison anjlok hampir separuh hanya dalam waktu sebulan. Kejatuhan saham Oracle membuat bos Oracle itu turun menjadi orang terkaya nomor delapan di dunia dan kini berada di bawah CEO Nvidia Jensen Huang.
Mengutip Forbes, saham Oracle jatuh lebih dari 5% pada perdagangan Senin (13/7) hingga berada di bawah US$133 per saham. Penurunan itu memperpanjang pelemahan saham Oracle yang kini telah mencapai 47% sejak menyentuh level tertinggi pada 1 Juni lalu.
Ellison, yang memiliki sekitar 40% saham Oracle, kehilangan kekayaan sekitar US$8 miliar atau sekitar Rp143,12 triliun. Kekayaannya kini diperkirakan mencapai US$175,2 miliar.
Posisi Ellison kini berada tepat di bawah Jensen Huang. Kekayaan CEO Nvidia tersebut berada di level US$176,3 miliar setelah turun US$6 miliar akibat saham Nvidia merosot 3,4%.
Penurunan ini menjadi pukulan besar bagi Ellison. Kekayaannya telah menyusut US$124,8 miliar sejak menembus US$300 miliar pada 1 Juni.
- Elon Musk Makin Miskin, Investor Malah Makin Kaya
- Apple Vs Pencipta ChatGPT Panas, Eks Karyawan Dapat Surat Peringatan
Saat itu, Ellison sempat menjadi orang terkaya kedua di dunia, hanya berada di bawah Elon Musk. Kekayaan Ellison meningkat drastis sejak masa pemerintahan kedua Presiden Donald Trump di Amerika Serikat.
Ellison banyak mengambil keuntungan dari berbagai kebijakan Trump seperti menguasai mayoritas saham di TikTok Amerika Serikat, mengambil alih perusahaan media raksasa CBS Paramount, hingga proyek data center raksasa.
Namun, tekanan terhadap Oracle meningkat seiring kekhawatiran investor terhadap besarnya belanja perusahaan untuk mengembangkan bisnis cloud dan kecerdasan buatan (AI).
Oracle berencana menggelontorkan sekitar US$70 miliar hingga tahun fiskal berjalan. Bahkan, perusahaan menyebut angka tersebut masih bisa bertambah hingga US$25 miliar.
Analis Melius Research memperingatkan rencana belanja tersebut bisa berubah jika OpenAI atau Anthropic meminta kapasitas komputasiyang lebih besar.
Lembaga pemeringkat S&P Global bahkan menurunkan peringkat kredit Oracle. S&P Global menilai bisnis infrastruktur AI Oracle yang berkembang pesat memang berpotensi menghasilkan keuntungan, tetapi membutuhkan biaya sangat besar dan bisa melemahkan posisi keuangan perusahaan dalam jangka pendek.
Kapitalisasi pasar Oracle telah anjlok US$494 miliar sejak mencapai puncak US$877,1 miliar pada September lalu. Pekan lalu, nilai perusahaan tersebut turun menjadi sekitar US$383 miliar.
Sebagai perbandingan, Oracle masih memiliki valuasi sekitar US$649 miliar pada akhir Mei. Oracle, seperti para pesaingnya, agresif mengembangkan bisnis cloud dan AI. Saham perusahaan sempat menguat menjelang laporan keuangan terbaru pada awal Juni karena Wall Street memperkirakan Oracle memiliki backlog pesanan lebih dari US$660 miliar.
Backlog tersebut sempat dinilai sebagai sinyal bahwa strategi ekspansi agresif Oracle mulai membuahkan hasil.
Namun, meski Oracle berhasil melampaui proyeksi pendapatan dan laba kuartalan, perusahaan mengecewakan investor melalui panduan kinerja tahun fiskal 2027.
Analis Vital, Adam Crisafulli, menyebut panduan penjualan Oracle untuk tahun fiskal 2027 sebagai sebuah "kekecewaan". Crisafulli menyoroti keputusan Oracle yang kembali mempertahankan proyeksi pendapatan tahunan sebesar US$90 miliar.
(dem/dem) Add as a preferred
source on Google





Komentar (0)