JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Gizi Nasional (BGN) memperkuat program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan melakukan penyisiran ulang terhadap sekitar 62,7 juta data penerima serta dan insentif Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG).
Menurut Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari, pembangunan dapur MBG di era pimpinan eks Kepala BGN Dadan Hindayana masih sangat sembarangan.
Sejalan dengan penataan tata kelola MBG di bawah kepimpinan Nanik S Deyang sebagai Kepala BGN, lembaga ini memiliki lima pejabat baru, mulai dari Sekretaris Utama hingga Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan.
Apa saja fokus evaluasi?Arumsari mengatakan, Presiden RI Prabowo Subianto ingin fokus utama dalam evaluasi program MBG adalah terkait penataan jumlah penerima manfaat dan insentif dapur.
Proses evaluasi ini akan berjalan dalam waktu satu bulan ke depan.
Baca juga: Nanik S Deyang Mundur dari Jabatan Kepala BGN
"Yang pertama kami perbaiki, 63 juta itu benar enggak sih? Itu pertama. Kalau itu berapa yang benar, lalu berapa yang seharusnya kami berikan? Daerah-daerah mana, anak-anak yang mana, yang memang harus kami dahulukan, begitu. Itu yang sekarang menjadi tugas kami," ujarnya usai Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (20/7/2026).
Menurut dia, penataan MBG akan secara otomatis berdampak ke penataan SPPG, termasuk soal pemberian insentifnya.
"Bahwa kemudian nanti konsekuensinya adalah ada SPPG yang, kan kemarin dengar ya eh kami katakan di RDP kan? 6 juta per hari, harinya saja diubah dengan dua kali SK, yang terakhir tuh 313 (hari)," ucapnya.
Oleh karena itu, hal ini juga akan dibenahi BGN dengan mencari skema insentif yang lebih adil.
Sebab, BGN menerima masukan soal keuangan SPPG agar dibuat sistem secara digital sehingga pertanggungjawabannya lebih transparan.
Sasaran daerah stuntingArumsari mengatakan, pembangunan titik dapur MBG di era pimpinan Eks Kepala BGN Dadan Hindayana masih sangat sembarangan tanpa melihat keperluan atau urgensinya.
Baca juga: Sisir Data Penerima, BGN Temukan Satu Sekolah Dilayani Dua SPPG
Padahal, salah satu tujuan MBG untuk memberikan makanan bergizi ke anak-anak guna mencegah stunting.
"Sehingga tidak ada tuh perhatian terhadap "Nih daerah stunting bukan sih?", daerah yang apa perlu disasar enggak sih karena ada kondisi tertentu?
Enggak. Mereka pokoknya ada SD sekitarnya, ada SMP sekitarnya, mau gitu. Apalagi ketika titik-titik SPPG itu sudah terlalu banyak, malah ada di lapangan yang berebut," ujarnya.
Yang terjadi di lapangan, kata Arumsari, banyak sekolah dilayani oleh dua SPPG, sehingga BGN melakukan evaluasi untuk menyisir penerima manfaat.






Komentar (0)