Rumor Akuisisi Bango Milik UNVR Berembus, Manajemen Grup Djarum Beri Penjelasan

katadata.co.id
8 jam lalu
Cover Berita

Kabar akuisisi merek kecap Bango milik PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) oleh Grup Djarum mencuat di kalangan investor dalam beberapa hari terakhir. Kabar itu muncul di tengah aksi divestasi bisnis makanan dan minuman yang tengah dilakukan Unilever Indonesia.

Menanggapi kabar yang beredar, manajemen Savoria Group, entitas Grup Djarum yang disebut-sebut turut ambil bagian dalam renrencana tersebut menyampaikan bantahan. Savoria Grup juga menyatakan tidak memiliki wacana untuk melakukan ekspansi bisnis melalui akuisisi, termasuk merek Bango.

“Jadi kabar mengenai rencana akuisisi Bango adalah tidak benar,” kata manajemen Savoria Grup kepada Katadata.co.id, Selasa (21/7). 

 Konfirmasi juga sudah dilayangkan kepada tim komunikasi Unilever Indonesia. Namun hingga berita ini diturunkan belum ada konfirmasi yang diterima. 

Sebelumnya, PT Savoria Kreasi Rasa telah mengambil alih unit bisnis teh bermerek SariWangi milik Unilever Indonesia (UNVR) senilai Rp 1,5 triliun. Akuisisi ini juga bentuk komitmen jangka panjang Savoria Group dalam memperkuat industri teh nasional sekaligus mendorong pertumbuhan merek-merek legendaris asli Indonesia. Lewat aksi ini, Grup Djarum berupaya memperkokoh industri teh melalui merek ikonik SariWangi.

Seiring rampungnya proses akuisisi, SariWangi resmi bergabung dan melengkapi jajaran merek utama Savoria Group. Di antaranya Kopi Tubruk Gadjah, Caffino, MilkLife, HydroPlus, FOX’S Candy, dan 5Days Croissant.

Apabila menilik kinerja UNVR, perusahaan FMCG itu membukukan laba bersih Rp 2,14 triliun hingga kuartal pertama 2026. Torehan itu melonjak 73% year on year (yoy) dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 1,23 triliun. 

Berdasarkan laporan keuangannya, penjualan bersih Unilever Indonesia juga naik 2,8% yoy menjadi Rp 8,44 triliun dari periode yang sama tahun lalu Rp 8,21 triliun.  Secara rinci penjualan dalam negeri sebesar Rp 5,82 triliun dan ekspor Rp 222,68 miliar. Sedangkan makanan dan minuman dari segmen dalam negeri sebesar Rp 2,39 triliun. 

 Arah Baru Bisnis Unilever  

Pada 31 Maret 2026, Unilever PLC mengumumkan telah menandatangani perjanjian kombinasi bisnis atas segmen usaha Makanan dengan McCormick & Company, Inc (McCormick). Transaksi diharapkan selesai sekitar pertengahan tahun 2027.  

Unilever Indonesia mengatakan perusahaan masih mengevaluasi dampak terhadap laporan keuangan.  Sedangkan Unilever Global sebelumnya menggabungkan bisnis makanannya dengan perusahaan McCormick & Company atau McCormick dan kini mulai fokus pada bisnis kecantikan. Penggabungan tersebut menyatukan dua bisnis yang dinilai memiliki kesamaan, sekaligus memiliki kinerja dengan pertumbuhan pendapatan yang solid.  

Seiring dengan transaksi tersebut, Chief Executive Officer Unilever, Fernando Fernandez, mengatakan Unilever akan memisahkan bisnis makanannya. Langkah ini akan mengubah posisi perusahaan menjadi pemain murni di segmen home and personal care (HPC). Usai spin-off, Unilever diproyeksikan mencatatkan pendapatan sekitar €39 miliar atau sekitar Rp 663 triliun berdasarkan tahun fiskal 2025.   

“Dan kemampuan luar biasa McCormick, kami membangun bisnis yang fokus dan berkualitas tinggi dengan pertumbuhan pendapatan yang signifikan dan potensi penciptaan nilai,” katanya dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (9/4).   

Dalam transaksi ini, Unilever bersama pemegang sahamnya akan memperoleh sekitar 65% kepemilikan di entitas gabungan melalui saham McCormick & Company.  Nilai kepemilikan tersebut setara sekitar US$ 29,1 miliar, mengacu pada harga rata-rata tertimbang saham McCormick selama satu bulan terakhir di level US$ 57,84.  U

Unilever juga akan menerima dana tunai sebesar US$ 15,7 miliar yang akan digunakan untuk menutup biaya pemisahan dan pajak satu kali. Dana itu juga menurunkan tingkat utang hingga sekitar 2,0 kali rasio utang bersih terhadap EBITDA.  

Selain itu hal itu juga untuk mendukung program pembelian kembali saham senilai €6 miliar yang direncanakan berlangsung pada periode 2026–2029. Unilever mengatakan transaksi ini mencerminkan valuasi enterprise sebesar US$ 44,8 miliar untuk bisnis Unilever Foods.  

Nilai tersebut setara dengan rasio EV terhadap penjualan sebesar 3,6 kali dan EV terhadap EBITDA sebesar 13,8 kali. Valuasi ini dinilai sejalan dengan kelipatan perdagangan Unilever saat ini dan mencerminkan valuasi menarik di sektor industri makanan global.




Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Arus Peti Kemas Terminal Teluk Lamong Group Tembus 1,47 Juta TEUs pada Semester I 2026
• 3 jam lalu
0
thumb
Kadin dan Kemenperin Perkuat Implementasi P2KDBK untuk Tingkatkan Keselamatan Industri Nasional
• 15 jam lalu
0
thumb
KPK Periksa Kepala BPK Perwakilan Sumsel sebagai Saksi Kasus Dugaan Suap Pengondisian Hasil Audit Muara Enim
• 20 jam lalu
0
thumb
KM Nurul Salsa Tenggelam Tewaskan 2 Orang, Manifest Kapal 45 Orang tapi Isinya 76
• 4 jam lalu
0
thumb
Jadwal KRL Jogja-Solo Rabu 22 Juli 2026, Cek Keberangkatan dari Stasiun Tugu hingga Palur
• 11 jam lalu
0
Berhasil disimpan.