Badan Gizi Nasional (BGN) mengakui data penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) perlu diperbaiki. Katanya, mereka sempat menemukan ada satu sekolah dilayani dua dapur atau SPPG.
Hal ini disampaikan Waka BGN Agustina Arumsari dalam jumpa pers di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Selasa (21/7/2026). Dia menyebut BGN akan melakukan penyesuaian berdasarkan kajian ilmiah dan data untuk mengurangi target dan anggaran.
"Sebagai contoh, kami menemukan ada satu sekolah yang ternyata dilayani oleh dua SPPG berbeda. Ketika data tersebut disandingkan dengan data dapodik, kami menemukan adanya ketidaksesuaian yang saat ini masih terus kami telusuri," kata Agustina.
Temuan-temuan seperti ini menjadi salah satu alasan mengapa proses validasi data perlu dilakukan secara mendalam. Jika seluruh data sudah benar-benar bersih dan terintegrasi, perencanaan anggaran juga akan menjadi lebih akurat.
Agustina mengakui sampai saat ini sistem yang ada memang belum sepenuhnya terintegrasi. Untuk itu, BGN hendak memperbaiki sistem tersebut agar diketahui secara langsung.
"Salah satu yang akan kami dorong adalah integrasi antara data dapodik dan sistem MBG sehingga secara real-time dapat diketahui jumlah anak penerima manfaat MBG sekolah mana saja yang menerima MBG, distribusi penerima manfaat, pemantauan pelaksanaan program," jelasnya.
Menurutnya, data yang akurat sangat penting untuk memberikan kepastian, transparansi, dan akuntabilitas dalam pelaksanaan program. Dia menyebut salah satu poin penting dari hasil evaluasi yang ada adalah perlunya membuka ruang transparansi yang lebih luas kepada masyarakat melalui data yang dapat dipantau secara jelas.
"Menurut saya, ini adalah hal yang sangat penting dan menjadi salah satu fokus utama yang akan kami kerjakan," tegasnya.
(tsy/maa)






Komentar (0)