Sudah Diekspor ke Beberapa Negara, Waspada Produk Minyak Taiwan Mengandung Zat Karsinogenik Penyebab Kanker

tvonenews.com
5 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, tvOnenews.com - Kasus dugaan pencemaran minyak salad kedelai di Taiwan terus menjadi perhatian setelah lebih dari sebulan sejak pertama kali terungkap pada Juni 2026. Skandal ini mencuat setelah minyak produksi Zhonglian Oils & Fats diketahui mengandung benzo[a]pyrene (BaP), senyawa yang bersifat karsinogenik, dengan kadar melebihi ambang batas keamanan pangan yang berlaku di Taiwan.

Perkembangan terbaru menunjukkan dampak kasus tersebut semakin meluas. Selain menyeret lebih dari 1.000 pelaku usaha di Taiwan, produk olahan yang menggunakan minyak tersebut juga diketahui telah diekspor ke sejumlah negara, yakni Jepang, Amerika Serikat, Kanada, dan Selandia Baru.

Sementara itu, sejumlah negara di kawasan Asia, termasuk Indonesia, disebut mulai meningkatkan kewaspadaan dengan memperketat pengawasan terhadap kemungkinan masuknya produk pangan yang menggunakan bahan baku minyak dari batch yang tercemar.

Kasus ini bermula ketika Zhonglian Oils & Fats melaporkan kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan Taiwan (TFDA) pada 30 Juni 2026 bahwa hasil pengujian internal menemukan kandungan benzo[a]pyrene (BaP) sebesar 8,1 mikrogram per kilogram pada minyak salad kedelai produksi mereka dengan nomor batch 315-1150404.

Angka tersebut jauh melampaui batas maksimum 2,0 mikrogram per kilogram yang ditetapkan dalam standar keamanan pangan Taiwan.

Benzo[a]pyrene merupakan salah satu senyawa hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) yang diklasifikasikan sebagai zat karsinogenik. Paparan dalam jumlah tinggi atau dalam jangka panjang diketahui dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk kanker.

Meski demikian, penyelidikan mengungkap bahwa indikasi masalah sebenarnya telah diketahui lebih awal. Berdasarkan laporan media di Taiwan, perusahaan hilir Namchow Oils & Fats diduga menemukan kejanggalan sejak 13 Mei 2026. Namun informasi tersebut baru diteruskan dalam rantai distribusi selama 48 hari sebelum akhirnya dilaporkan secara resmi kepada otoritas.

Keterlambatan pelaporan itu menyebabkan produk yang diduga menggunakan minyak bermasalah tetap beredar di pasaran dalam kurun waktu tertentu.

Penyelidikan yang dilakukan pemerintah pusat dan pemerintah daerah Taiwan juga menemukan bahwa rantai distribusi minyak tersebut menjangkau berbagai sektor.

Hingga pertengahan Juli 2026, lebih dari 1.000 pelaku usaha terdampak, mulai dari industri pengolahan makanan, restoran, distributor, hingga lembaga publik seperti sekolah, rumah sakit, institusi militer, dan panti lansia.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Ditjen Imigrasi tegaskan sanksi pidana bagi WNA melanggar hukum 
• 2 jam lalu
0
thumb
PGN: Tak Ditemukan Gas Metana di Lokasi Perumahan Ledakan Grand Polonia Medan
• 18 jam lalu
0
thumb
Jangan Asal Tutup Pelat Nomor, Pengendara Terancam Denda Rp500.000 atau Kurungan 2 Bulan
• 9 jam lalu
0
thumb
Cara Sederhana untuk Bikin Rumah Lebih Tenang dan Bebas Stres
• 20 jam lalu
0
thumb
Mencari Jejak Odysseus: Mitos dan Fakta Sang Raja Ithaca
• 16 jam lalu
0
Berhasil disimpan.