Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi mendorong sebagian konsumen beralih menggunakan Pertalite. Peralihan konsumsi tersebut terjadi seiring lebarnya selisih harga antara Pertalite dan Pertamax.
Harga Pertamax atau RON 92 saat ini berada di level Rp16.250 per liter, sedangkan Pertalite yang mendapat kompensasi dari pemerintah dijual Rp10.000 per liter. Perbedaan harga itu turut meningkatkan konsumsi Pertalite dan memicu antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum.
Menanggapi kondisi tersebut, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman mengatakan pemerintah tengah mengatur tata kelola Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite, termasuk pengelolaan kuotanya.
Namun, Laode belum dapat memastikan kemungkinan penambahan kuota Pertalite pada tahun ini. Pemerintah sebelumnya menetapkan kuota JBKP Pertalite 2026 sebesar 29,27 juta kiloliter.
"Nah itu (kuota Pertalite) sedang dimanage ya. Kan kemarin juga salah satunya kita sedang menuntaskan masalah BBM di Sumatra Utara ya," ujar Laode saat ditemui selepas gelaran Global Hydrogen Exhibition & Summit (GHES) 2026 di Jakarta Convention Center (JCC), Selasa (21/7/2026).
Selain mengatur kuota Pertalite, pemerintah turut mencermati perkembangan harga BBM non-subsidi. Kendati demikian, Laode belum dapat memastikan kapan harga Pertamax akan kembali turun.
Menurut dia, penetapan harga BBM non-subsidi mengikuti mekanisme pasar dan formula yang telah ditentukan pemerintah. Perhitungannya mengacu pada sejumlah parameter, antara lain harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
"Kalau yang seperti Pertamax Turbo, kemudian Dexlite, Pertamina Dex, itu kan sudah mengikuti pola harga yang berlaku, ketika crude-nya naik, dia ikut naik. Nah kalau yang lain, saya belum bisa sampaikan," imbuhnya.
Peralihan konsumsi dari BBM non-subsidi ke BBM bersubsidi sebelumnya juga disampaikan PT Pertamina Patra Niaga. Perusahaan menyebut lonjakan konsumsi Pertalite dan Biosolar menjadi salah satu pemicu antrean BBM yang sempat terjadi di sejumlah wilayah Sumatera.
Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Taufiq Aditiyawarman, mengatakan stok BBM dan LPG secara nasional berada dalam kondisi aman dan mencukupi. Namun, peningkatan konsumsi yang cukup tajam di sejumlah daerah turut disertai pembelian berlebihan atau panic buying.
Kondisi tersebut juga menyebabkan distribusi BBM membutuhkan waktu untuk menyesuaikan peningkatan permintaan di tingkat lembaga penyalur.
Baca Juga: Antrean BBM di Sumut Mengular, Ini Penjelasan Bahlil dan Pertamina
Baca Juga: Mas Bahlil Sebut Harga BBM Nonsubsidi Berpeluang Turun, Syaratnya..
"Masih terjadi antrean dan pembelian secara berlebihan atau panic buying di beberapa wilayah di Sumatera secara umum yang juga dipengaruhi oleh kenaikan ataupun shifting dari konsumsi BBM kepada BBM subsidi yaitu Pertalite dan Solar dan juga mungkin ada lagging dalam distribusi untuk merespons peningkatan volume penyerapan BBM bersubsidi tersebut ke lembaga penyalur," kata Taufiq dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Kamis (17/7/2026).






Komentar (0)