Bahlil Lahadalia Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan, implementasi mandatori biodiesel B50 berhasil menekan impor minyak Indonesia hingga 250 ribu–300 ribu barel per hari.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor.
Bahlil menjelaskan, sebelum penerapan B50, Indonesia mengimpor minyak sekitar 1 juta barel per hari untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kini, angka tersebut turun menjadi sekitar 700 ribu–750 ribu barel per hari.
“Kita konversi B50 itu, kita mampu memotong impor kita hampir 250 ribu sampai 300 ribu barel per hari,” kata Bahlil di Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Menurutnya, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) nasional saat ini mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari.
Sementara produksi minyak atau lifting nasional masih berada di kisaran 600 ribu hingga 615 ribu barel per hari, sehingga kebutuhan sisanya harus dipenuhi melalui impor.
“Maka kemudian, perlahan-lahan kita geser dari fosil ke energi alternatif. Kemarin kita lakukan peresmian B50,” ujarnya.
Bahlil mengatakan konsumsi solar nasional mencapai sekitar 39 juta kiloliter (KL) per tahun. Dengan penggunaan biodiesel B50, kebutuhan impor minyak dapat ditekan secara signifikan.
“Jadi sekarang, impor minyak total itu masih ada kurang lebih sekitar 700 sampai 750 ribu barel per hari, dari sebelumnya sekitar 1 juta barel per hari,” jelasnya dilansir dari Antara.
Program B50 merupakan kebijakan penggunaan bahan bakar diesel yang mengandung campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit.
Pemerintah menilai kebijakan ini tidak hanya mengurangi impor energi, tetapi juga meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa sawit di dalam negeri.
Sebelumnya, Prabowo Subianto Presiden RI menyatakan, Indonesia mulai menghentikan impor solar sejak Juli 2026 setelah berhasil mengembangkan B50.
Menurut Presiden, Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang memproduksi biodiesel dengan campuran 50 persen berbahan baku minyak sawit.
Prabowo menilai penghentian impor solar akan memberikan dampak ekonomi yang besar karena anggaran yang sebelumnya digunakan untuk membeli bahan bakar dari luar negeri dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan perekonomian nasional.
Selain memperluas penggunaan B50, pemerintah juga mulai mengembangkan bensin campuran bioetanol 10 persen atau E10 sebagai tahap awal transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan. (ant/saf/ipg)





Komentar (0)