Emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mulai menyiapkan pengembangan fasilitas pabrik kimia Chlor Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) Tahap II. Pengembangan pabrik ini diperkirakan menelan investasi sekitar US$ 1 miliar atau setara Rp 18 triliun.
Fasilitas tersebut akan dikembangkan melalui anak usaha TPIA, PT Chandra Asri Alkali (CAA). Pada tahap ini, CAA mulai melakukan studi kelayakan sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat kapasitas produksi. Pengembangan CA-EDC Tahap II diperkirakan membutuhkan investasi sekitar US$ 1 miliar atau setara Rp 17,97 triliun.
Rencana tersebut merupakan kelanjutan dari pembangunan CA-EDC Tahap I yang telah mencapai progres konstruksi 72% hingga Juli 2026.
Presiden Direktur dan CEO Chandra Asri Group Erwin Ciputra mengatakan, kemajuan pembangunan fasilitas CA-EDC menjadi bagian dari komitmen perseroan untuk memperkuat fondasi industri kimia nasional.
Menurut dia, studi kelayakan tahap II dan pembangunan infrastruktur pendukung diharapkan dapat menciptakan ekosistem produksi dan distribusi yang semakin terintegrasi.
“Kami ingin menghadirkan ekosistem produksi dan distribusi yang semakin terintegrasi sehingga mampu meningkatkan keandalan pasokan bahan kimia dasar bagi industri nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok regional,” kata Erwin dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Selasa (21/7).
Bagaimana Kapasitas Produksi CA-EDC Tahap I?Pembangunan fasilitas CA-EDC tahap I menelan investasi lebih dari US$ 800 juta dan ditargetkan mulai beroperasi pada tahun fiskal 2027.
Selain fasilitas produksi, TPIA pada tahap ini juga membangun infrastruktur pendukung yang mencakup fasilitas distribusi dan penyimpanan, sistem logistik terintegrasi serta pipe rack pada jetty trestle. Pemasangan pipe rack dilakukan dengan metode modular untuk mendukung kegiatan bongkar muat bahan baku dan distribusi produk.
Setelah beroperasi, CA-EDC Tahap I diproyeksikan memiliki kapasitas produksi hingga 827.000 ton soda kaustik cair dan 500.000 ton Ethylene Dichloride (EDC) per tahun.
Produksi soda kaustik cair tersebut berpotensi menggantikan impor hingga 827.000 ton per tahun dengan nilai sekitar US$ 293 juta atau Rp 4,9 triliun. Sementara itu, produksi EDC akan diarahkan untuk memenuhi pasar ekspor dengan potensi menghasilkan devisa sekitar US$ 300 juta atau Rp 5 triliun per tahun.
Selama masa konstruksi, proyek CA-EDC telah menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja. Fasilitas tersebut diproyeksikan menciptakan sekitar 250 lapangan kerja baru setelah beroperasi penuh pada 2027.
Perseroan berharap pengembangan tersebut dapat memperkuat konektivitas rantai pasok industri kimia, baik di tingkat nasional maupun regional.
Di tengah ekspansi tersebut, saham TPIA saat ini diperdagangkan dengan valuasi yang relatif premium. Berdasarkan riset Phintraco Sekuritas, TPIA memiliki price to book value (PBV) sebesar 2,79 kali dan price to earnings ratio (PER) 18,61 kali.
Valuasi tersebut berada di atas rata-rata subsektor basic materials yang masing-masing memiliki PBV 1,26 kali dan PER 10,72 kali.





Komentar (0)