Ada pertanyaan yang terus kembali setiap kali saya memperhatikan wajah-wajah di ruang publik, di layar ponsel, di keramaian kota: bagaimana mungkin manusia yang hidup berdesakan di antara delapan miliar jiwa masih bisa merasa sendirian sampai ke tulang?
Kesepian hari ini bukan lagi pengecualian, melainkan hampir menjadi kondisi bawaan zaman. Ia tidak selalu tampak sebagai isolasi fisik. Orang bisa dikelilingi keluarga, kolega, dan ribuan pengikut di media sosial, lalu tetap merasa seperti pulau yang tak tersentuh oleh daratan mana pun.
Penderitaan ini jarang diam di tempat. Ia menjelma menjadi kegelisahan yang mendorong tindakan tindakan kompulsif: mengejar validasi tanpa henti, menimbun kepemilikan seolah itu bisa mengisi kekosongan, atau justru menarik diri sepenuhnya dari dunia yang terasa asing.
Saya menduga akar persoalannya bukan pada ketiadaan manusia di sekitar kita, melainkan pada hilangnya kesadaran bahwa kita sesungguhnya saling terhubung dan saling memiliki. Kesadaran itulah yang selama ini diam diam menopang rasa tanggung jawab kita.
Ketika kesadaran itu padam, tanggung jawab pun ikut padam: terhadap sesama manusia, terhadap hewan dan tumbuhan, bahkan terhadap semesta yang menopang hidup kita setiap hari. Kita menjadi penghuni dunia yang lupa bahwa dirinya adalah bagian dari dunia itu sendiri.
Di sinilah gnosis, pengetahuan batin yang tidak datang dari hafalan atau dalil, melainkan dari penyingkapan langsung atas hakikat diri, menemukan relevansinya. Tradisi tradisi gnostik, dari mana pun asalnya, selalu menegaskan satu hal yang sama: penderitaan manusia berakar pada agnoia, ketidaktahuan akan asal dan keterhubungan dirinya dengan Yang Ilahi dan dengan seluruh ciptaan.
Ini bukan ketidaktahuan intelektual, sebab banyak orang yang tahu secara konsep bahwa "semua makhluk saling terhubung" tetap hidup seolah olah dirinya adalah pusat yang terpisah. Gnosis adalah pengetahuan yang mengubah cara hidup, bukan sekadar menambah isi kepala.
Kesepian, dilihat dari sudut ini, bukanlah ketiadaan manusia di sekelilingmu, melainkan ketiadaan rasa bahwa dirimu adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Ia lahir ketika batas antara "aku" dan "yang lain" menjadi begitu tebal, hingga dunia terasa asing dan tidak lagi menyentuh hati. Dan karena batas itu adalah konstruksi kesadaran, bukan fakta alam, ia bisa dilarutkan kembali: bukan dengan memperbanyak apa yang kita miliki, tetapi dengan memperluas apa yang kita anggap sebagai tanggung jawab kita.
Inilah makna terdalam dari "saling memiliki": bukan kepemilikan yang menguasai, melainkan keterhubungan yang melahirkan kepedulian. Ketika seseorang berkata, "ini juga tanggung jawabku," saat itulah batas dirinya mulai meluas, dan semakin luas batas itu, semakin kecil ruang yang tersisa bagi kesepian untuk tinggal.
Gagasan ini juga menjelaskan kembali makna kepemimpinan dalam bahasa spiritual. Jika manusia ditakdirkan sebagai wakil Tuhan di muka bumi, maka kelalaian kita terhadap sekitar bukan sekadar pelanggaran etika, melainkan pengingkaran atas amanah eksistensial itu sendiri. Seorang wakil Tuhan tidak ditinggikan karena kekuasaan atau kecerdasannya, tetapi karena kesediaannya memikul sesuatu yang bahkan bukan miliknya sendiri. Begitu pula seorang pemimpin sejati bukanlah orang yang memiliki banyak pengikut, melainkan orang yang mampu menampung kehidupan yang lebih luas di dalam hatinya. Bunda Teresa pernah berkata sesuatu yang, seperti banyak ucapan orang-orang yang hidup dekat dengan penderitaan manusia, terdengar sederhana namun menyimpan kedalaman yang jarang disadari:
Pada akhirnya, kedamaian tidak lahir ketika dunia mulai mencintai kita. Kedamaian lahir ketika kita berhenti hidup sebagai pusat dunia, lalu mulai hidup sebagai bagian darinya. Saat itulah manusia menyadari bahwa makna hidup bukan terletak pada pertanyaan, "siapa yang akan memenuhi kekosonganku?" melainkan pada pertanyaan yang jauh lebih sunyi dan jauh lebih menyembuhkan: "apa yang hari ini dapat kujaga?"






Komentar (0)