Sejumlah warga mengeluhkan buruknya kualitas udara wilayah Tangerang Selatan di media sosial. Dalam unggahan tersebut, warga memperlihatkan kondisi lingkungan yang tampak seperti berkabut karena polusi.
Para warga juga mengaku mencium bau asap menyengat ketika berada di luar rumah. Narasi yang beredar, kualitas udara seperti itu telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Unggahan itu juga menyebut indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) di wilayah tersebut mencapai hingga angka 243. Sebagai informasi, AQI merupakan sistem pengukuran yang digunakan untuk menggambarkan tingkat kebersihan atau pencemaran udara.
Dalam kategori AQI, angka 0-50 menunjukkan kualitas udara baik, 51-100 sedang, 101-150 tidak sehat bagi kelompok sensitif, 151-200 tidak sehat, 201-300 sangat tidak sehat, sedangkan 301-500 masuk kategori berbahaya. Dengan demikian, AQI sebesar 243 termasuk dalam kategori sangat tidak sehat.
Merespons keluhan tersebut, Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan, ada dua faktor utama yang diduga memengaruhi memburuknya kualitas udara di wilayah Tangerang dan Tangerang Selatan.
Menurutnya, musim kemarau dapat memperburuk kondisi kualitas udara. Lalu, aktivitas pembakaran sampah turut menambah konsentrasi polutan di udara.
“Kemarau dan kebiasaan pembakaran sampah oleh masyarakat,” ujar Sena saat dikonfirmasi, Senin (20/7).
Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk menghentikan kebiasaan membakar sampah agar tidak semakin memperburuk kualitas udara.
“Jangan membakar sampah,” tuturnya.
Selain itu, ia juga meminta masyarakat melindungi diri ketika harus beraktivitas di luar ruangan dalam waktu yang cukup lama.
“Menggunakan masker kalau beraktivitas lama di luar ruangan,” pungkasnya.






Komentar (0)