PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menargetkan kapitalisasi pasar mencapai sekitar Rp550 triliun pada 2030 melalui transformasi jangka menengah TLKM30.
IDXChannel - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menargetkan kapitalisasi pasar mencapai sekitar Rp550 triliun pada 2030 melalui transformasi jangka menengah bertajuk TLKM30.
Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji menjelaskan, salah satu sasaran utama TLKM30 adalah meningkatkan total shareholder return.
"Saat ini valuasi pasar kita ada di angka dengan adanya tekanan MSCI itu, kita kemarin saat ini ada di 2.500, 1.600, atau bisa dikatakan Rp260 triliunan, market cap saat ini. Target kami, kami ingin mencapai di angka sekitar Rp550 triliunan di 2030," ujarnya dalam podcast The Fundamentals, Senin (20/7/2026).
Selain meningkatkan valuasi perusahaan, Telkom juga menargetkan perubahan komposisi pendapatan. Saat ini lebih dari 70 persen pendapatan perusahaan masih berasal dari segmen business to consumer (B2C) melalui Telkomsel.
Ke depan, perusahaan ingin meningkatkan kontribusi bisnis di luar B2C sehingga proporsinya menjadi sekitar 60:40 atau bahkan 55:45.
"Saat ini proporsi pendapatan kami itu 70 persen plus itu didukung oleh B2C. Telkomsel. Dan ini yang kami ingin rubah proporsinya menjadi antara katakanlah 60:40 atau 55:45. Artinya, saat ini yang 30 ini kita ingin grow minimal katakanlah 150 persennya," kata Seno.
Untuk mencapai target tersebut, ujar Seno, Telkom mengubah struktur bisnisnya menjadi empat pilar utama, yakni B2C (consumer), digital infrastructure, international, dan B2B ICT (enterprise). Menurutnya, tiga pilar di luar B2C akan menjadi fokus utama pertumbuhan perusahaan dalam beberapa tahun ke depan.
Pada pilar digital infrastructure, Telkom mengonsolidasikan berbagai aset strategis seperti jaringan fiber melalui Infranexia, menara telekomunikasi melalui MitraTel, pusat data Neutra DC, layanan satelit Telkomsat, hingga perusahaan penyedia layanan (services company).
"Di situ rencana akan kami gabungkan menjadi satu. Nah ini kami sebut sebagai digital infra pilar," katanya.
Seno mengatakan, proses carve out atau pemisahan aset fiber ke Infranexia telah memasuki tahap lanjutan. Sebanyak 50 persen aset telah dipindahkan pada Desember tahun lalu, sedangkan tahap kedua ditargetkan rampung pada September 2026 sehingga seluruh aset fiber telah berada di bawah Infranexia.
Setelah itu, Telkom akan melanjutkan pemisahan bisnis enterprise (B2B ICT) yang ditargetkan dimulai pada Oktober-November 2026. Langkah tersebut akan melengkapi transformasi Telkom menjadi strategic holding, di mana perusahaan induk akan berfokus pada penyusunan strategi, kebijakan, dan inovasi jangka panjang.
Seno menilai strategi tersebut sejalan dengan perjalanan pertumbuhan Telkom yang selama ini selalu didorong oleh perkembangan teknologi, mulai dari PSTN, layanan seluler melalui Telkomsel, hingga layanan fixed broadband melalui IndiHome.
"The thing is at the same time, kita punya perusahaan banyak sekali. Kita punya 67 perusahaan in the group. Dan sesuai juga dengan direction dari Danantara. Kami melakukan simplifikasi. Kami akan refocus to our core capabilities," kata dia.
(Dhera Arizona)






Komentar (0)