FABC Dorong Gereja Katolik Asia Membangun Jembatan Dialog, Terinspirasi Indonesia

kompas.id
17 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS - Sidang Pleno XII Federasi Konferensi Uskup-uskup Asia atau FABC mulai berlangsung di Jakarta, Indonesia, mulai 20-26 Juli 2026. Dalam sidang tersebut, keberagaman dan Pancasila yang hidup di Indonesia menjadi inspirasi bagi para peserta FABC.

Sidang Pleno merupakan badan tertinggi dalam tata kelola FABC yang diselenggarakan empat tahun sekali. Sidang Pleno yang berlangsung di Jakarta kali ini merupakan yang ke-12 sejak pertama kali sidang pleno diselenggarakan pada 1974 di Taipei, Taiwan. Setidaknya sebanyak 150 uskup dari berbagai perkumpulan atau konferensi uskup di berbagai negara hadir di Jakarta.

Sidang Pleno XII FABC mengambil tema “The Call to Synodal Conversion and the Mission to be Bridges and Bridge-builders in Asia”. Tema itu menekankan baik perubahan batin untuk sinodalitas yang otentik dan misi untuk menjadi jembatan sekaligus pembangun jembatan di tengah budaya, komunitas, serta tradisi iman yang beragam di Asia.

Uskup San Pablo, Filipina, Marcelino Antonio M Maralit JR selaku Chairman of the FABC Office of Social Communication dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (20/7/2026) menyampaikan, dalam Sidang Pleno XII, para uskup akan berefleksi bersama mengenai bagaimana mendorong dialog, mengupayakan rekonsiliasi, serta membangun jembatan antara gereja dengan berbagai komunitas dan masyarakat. 

“Sidang pleno akan lebih banyak berisi percakapan dengan tekanan pada saling mendengarkan satu dengan yang lain,” kata Maralit.

Terowongan Silaturahmi menghubungkan Gereja Katedral Jakarta dengan Masjid Istiqlal. Itu menjadi simbol penting mengenai relasi Gereja Katolik dengan agama Islam secara khusus, tetapi juga dengan agama-agama yang lain.

Dialog dan saling mendengarkan tersebut digarisbawahi oleh Kardinal Filipe Neri Ferrão, Uskup Agung Goa dan Damão, India, yang kini merupakan Presiden FABC. Menurut Ferrão, masyarakat di Asia percaya pada dialog dan kolaborasi dengan tetap menjunjung keberagaman.

Oleh karena itu, Sidang Pleno XII diharapkan akan dapat mendorong gereja di Asia untuk menjadi jembatan sekaligus juga pembangun jembatan. Hal itu dilakukan dalam sinodalitas atau berjalan bersama sebagai persekutuan.

Baca JugaModerasi Beragama Indonesia Jadi Contoh di Forum Lintas Agama G20 di India

Pada kesempatan itu, Kardinal Pablo Virgilio David, Uskup Kalookan, Filipina, yang juga FABC Vice President and Head of the Commission for Synodality mengatakan, Indonesia merupakan negara yang banyak diperhatikan para uskup di Asia. Salah satu yang menginspirasi adalah dasar negara Indonesia, yakni Pancasila, yang selaras dengan ajaran Katolik.

Menurut David, Pancasila mengajarkan tentang penghargaan kepada martabat manusia. Selain itu, Pancasila juga mengandung nilai kebersamaan dengan mengedepankan dialog, antara lain berupa dialog lintas iman, dialog budaya, serta dialog dengan kaum miskin.

“Jika kita memperhatikan hal itu, maka kita bisa mengembangkannya di komunitas-komunitas, termasuk bersama pihak lain yang berbeda,” tutur David.

Ketika hal itu dilakukan dalam sinodalitas atau bersama-sama, kata David, maka diharapkan muncul sikap saling menghargai, alih-alih bermusuhan. Sebab, dengan sinodalitas, tidak ada yang merasa lebih hebat dari yang lain.

Orang-orang terpinggirkan

David juga mengakui bahwa salah satu tantangan di negara-negara Asia adalah kemiskinan dan ketimpangan di tengah perkembangan yang begitu pesat. Di banyak tempat terdapat komunitas atau orang-orang yang terpinggirkan.

Persoalan lain yang juga menjadi bahan refleksi dalam Sidang Pleno XII adalah krisis iklim dan korupsi. Gereja menyadari bahwa bisnis yang ekstraktif berdampak besar pada kerusakan lingkungan.

Demikian pula dengan persoalan korupsi yang menghantui banyak negara di Asia. “Itu adalah tantangan besar bagi kita,” ujar David.

Gereja yang terlibat

Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo mengatakan, melalui diskusi dalam Sidang Pleno XII FABC, Gereja Katolik terus berdialog untuk mencari cara baru kehadiran gereja terutama di Asia. Dialog agama menjadi penting karena agama besar dunia lahir di Asia.

Berikutnya, kata Suharyo, adalah dialog dengan kebudayaan. Asia sebagai benua yang kaya dengan kebudayaan diharapkan dapat saling berbagi satu dengan yang lain. Di Indonesia, hal itu dilakukan melalui inkulturasi, semisal lagu gereja menggunakan bahasa setempat atau bahasa daerah.

Dialog yang juga penting, menurut Suharyo, adalah dialog dengan mereka yang miskin. Suharyo mengaku prihatin, masih banyak sesama manusia yang miskin dan belum dimuliakan martabat manusianya.

Baca JugaTuhan Bersemayam di Gubuknya Si Miskin

Suharyo juga menyoroti tentang kondisi lingkungan dan bumi yang seharusnya menjadi rumah bersama. Menurut dia, bumi saat ini dikuasai oleh segelintir kekuasaan besar.

“Dialog-dialog itu harapannya gereja tidak menjadi unsur entitas asing di tempat ia berada.  Tetapi menjadi bagian yang berjuang bersama-sama. Itulah yang namanya ajaran sosial gereja. Jadi, gereja yang terlibat untuk terus berusaha memuliakan martabat manusia,” tutur Suharyo.

Terowongan Silaturahmi

Uskup Pangkal Pinang, Adrianus Sunarko OFM, yang juga merupakan Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menyampaikan, pada akhir rangkaian Sidang Pleno XII, para peserta akan diajak mengunjungi Masjid Istiqlal dengan melewati Terowongan Silaturahmi. Terowongan tersebut menghubungkan Gereja Katedral Jakarta dengan Masjid Istiqlal.

“Itu menjadi simbol penting mengenai relasi Gereja Katolik dengan agama Islam secara khusus, tetapi juga dengan agama-agama yang lain,” ujar Sunarko.

Suharyo menambahkan, Presiden Sukarno dulu menghendaki Masjid Istiqlal dibangun di situ sebagai upaya untuk menghilangkan ingatan tentang kolonialisme. Demikian pula diberi nama Masjid Istiqlal yang berarti kemerdekaan.

Baca JugaTerowongan Silaturahmi, Lambang dan Inspirator Kerukunan Antarumat

Selain itu, lokasi yang berdampingan dengan Gereja Katedral Jakarta dimaksudkan sebagai simbol dari cita-cita bangsa Indonesia untuk hidup di dalam harmoni. Meski yang menjadi lambang hanya Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral, namun yang diharapkan tetap mencakup seluruh agama yang ada di Indonesia. 

“Lambang itulah yang sekarang disempurnakan dengan Terowongan Silaturahmi. Mengingatkan zaman dulu ketika Masjid Istiqlal mau dibangun untuk menjadi lambang, simbol dari ideal sebangsa Indonesia untuk hidup rukun. Itu nanti dijadikan juga tempat edukasi kebangsaan,” terang Suharyo.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Bocoran OPPO A7 Pro Max, Disebut Punya Baterai 10.000 mAh
• 1 jam lalu
0
thumb
Tunggakan Retribusi Juru Parkir di Kota Semarang Capai Rp280 Juta
• 22 jam lalu
0
thumb
Atlet Golf Perempuan Diculik saat Perayaan Ultah Nenek di Restoran Jakpus, Begini Kronologinya!
• 19 jam lalu
0
thumb
Cara Istri Temon Obati Rasa Rindu, Seminggu Berpulang Belum Sanggup Singkirkan Jejak Sang Suami
• 16 jam lalu
0
thumb
Bahlil Buka Peluang Harga Pertamax Turun, Ini Syaratnya
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.