Singapura - Dampak perang di Timur Tengah melanda ke banyak negara, tak terkecuali Singapura. Tetangga Indonesia itu merasakan sulitnya pasokan energi imbas konflik. Oleh sebab itu, mereka menyiapkan strategi diversifikasi energi, salah satunya bersiap mengandalkan energi berbasis nuklir.
Menteri Negara Bidang Perdagangan dan Industri Singapura Gan Siow Huang mengatakan negaranya saat ini mengandalkan pasokan gas alam cair atau LNG dari Timur Tengah, terutama untuk pembangkit listrik. Namun, mereka akan segera mengubah sumber energi untuk masa depan.
"Kita telah melihat bagaimana konflik baru-baru ini di Timur Tengah telah menyebabkan gangguan pasokan minyak dan gas," kata Gan dalam sebuah sesi wawancara bersama Katadata dan sejumlah media asal Indonesia di Singapura pekan lalu.
"Itu telah berdampak pada Singapura, karena sebagian gas alam kami biasanya berasal dari Timur Tengah," katanya.
Dia mengatakan, dalam jangka pendek, Singapura masih akan mencari pasokan gas dari negara-negara lain seperti Australia, Amerika Serikat, hingga sejumlah negara di Afrika. "Kami akan terus bergantung pada gas alam, tetapi perlu melakukan diversifikasi," katanya.
Diversifikasi akan dilakukan dengan membidik tenaga Surya. Gan mengatakan, negaranya telah berhasil mencapai puncak target pembangkit listrik tenaga surya sebesar 2 gigawatt tahun lalu. Saat ini, Singapura akan membidik peningkatan kemampuan PLTS memasok listrik menjadi 3 gigawatt.
"Sama seperti di Indonesia, kami memiliki iklim yang cukup kondusif untuk energi surya," kata Gan.
Strategi diversifikasi berikutnya adalah mengimpor listrik berbasis energi bersih dari negara-negara tetangga. Gan mengatakan sejumlah negara yang dibidik untuk mengekspor listrik ke Singapura antara lain Indonesia dan Malaysia.
Dia juga mengatakan, strategi ini sejalan dengan rencana negara-negara Asia Tenggara mewujudkan integrasi jaringan listrik antarnegara atau ASEAN Power Grid.
"Negara-negara anggota ASEAN sekarang tampaknya jauh lebih serius untuk mewujudkan jaringan listrik ASEAN," katanya.
Strategi diversifikasi selanjutnya adalah mengandalkan energi nuklir untuk memasok listrik. Menurut Gan, langkah ini memerlukan waktu lebih panjang, berkisar antara 10 hingga 15 tahun ke depan. "Kami masih berada pada tahap sangat awal," katanya.
Singapura saat ini akan memulai proses Tinjauan Terpadu Infrastruktur Nuklir oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA-INIR). IAEA akan menilai, apakah jiran Indonesia itu punya pengetahuan hingga institusi memadai untuk mengembangkan program energi nuklir sipil.
"Jadi kami (masih) benar-benar berada di titik awal," kata Gan.
Gan juga mengatakan negaranya siap bekerja sama dengan negara lain, termasuk Indonesia, dalam mengembangkan energi berbasis nuklir pada masa depan.
"Sebagai perbandingan, Indonesia sebenarnya jauh lebih maju. (Selama) 20 tahun terakhir telah ada upaya dalam membangun kemampuan (nuklir di Indonesia)," katanya.





Komentar (0)