Tan Malaka menggunakan logika sebagai alat pembebasan, tetapi apakah kerangka logikanya sendiri cukup terbuka untuk dibebaskan dari asumsi-asumsinya?
Ada sebuah pertanyaan setua manusia itu sendiri. Sebelum manusia menengadah ke langit dan bertanya tentang bintang-bintang, sebelum ia menulis kitab, membangun kota, atau menciptakan peradaban, mungkin ia sudah lebih dulu bertanya dalam diam: apakah dunia ini dibentuk oleh pikiran kita, atau justru pikiran kitalah yang dibentuk oleh dunia? Pertanyaan yang tampak sederhana, tetapi diam-diam menjadi medan perang panjang bagi para pemikir selama berabad-abad.
Di satu sisi, ada manusia yang percaya bahwa gagasan adalah api yang menyalakan sejarah, bahwa ide kecil yang tumbuh dalam kepala dapat menjadi gelombang besar yang meruntuhkan tembok lama. Di sisi lain, ada mereka yang melihat dunia dari tanah, bahwa sebelum manusia mampu memikirkan mimpi yang tinggi, ia harus lebih dulu memastikan kakinya tidak tenggelam dalam lumpur kenyataan. Di antara dua kutub itulah nama Hegel dan Marx berdiri. Dan jauh setelahnya, di tanah yang berbeda, Tan Malaka mencoba membawa perdebatan itu masuk ke ruang yang lebih dekat dengan denyut kehidupan bangsanya sendiri.
Bagi Hegel, sejarah bukan sekadar rangkaian peristiwa yang terjadi secara acak. Ia adalah perjalanan panjang kesadaran manusia menuju pemahaman yang lebih tinggi. Dunia bergerak karena manusia terus berhadapan dengan pertentangan, sebuah gagasan muncul, lalu bertemu kenyataan yang tidak sesuai dengannya, dan dari benturan itulah lahir pemahaman baru. Bagi Hegel, kontradiksi bukan kehancuran melainkan rahim tempat segala sesuatu yang baru dilahirkan. Sejarah, dalam pandangannya, seperti manusia yang tumbuh dewasa, ia tidak menjadi matang karena hidupnya tenang, tetapi karena berulang kali berhadapan dengan konflik yang memaksanya memahami dirinya sendiri. Namun bagi sebagian kepala, Hegel dianggap terlalu jauh berjalan di awan karena melihat dunia dari ketinggian pikiran, tapi lupa bahwa manusia masih harus berpijak di tanah.
Di sinilah Marx datang membawa kritiknya.
Marx melihat manusia bukan sebagai makhluk yang pertama-tama berpikir, melainkan makhluk yang pertama-tama bertahan hidup. Sebelum berbicara tentang filsafat, manusia butuh makan. Sebelum memikirkan kebebasan, ia harus bertanya apakah hidupnya sendiri bebas dari belenggu. Marx membalik Hegel, bukan kesadaran yang menentukan kehidupan, melainkan kehidupan yang membentuk kesadaran. Pikiran manusia, baginya, tidak tumbuh di ruang kosong, melainkan dari tanah sosial tempat manusia berpijak. Seorang buruh di pabrik dan seorang pemilik modal mungkin melihat dunia yang sama, tetapi dari jendela yang berbeda, sebab posisi seseorang dalam kehidupan ikut menentukan bagaimana ia memahami kehidupan itu sendiri.
Kemudian datanglah Tan Malaka.
Seorang manusia yang membawa perdebatan panjang antara Hegel dan Marx melewati samudra, lalu menanamnya di tanah Indonesia yang sedang mencari bentuk. Dalam Madilog, tidak hanya ingin membicarakan filsafat, tetapi ingin membangun cara berpikir. Ia melihat masyarakat yang menurutnya masih sering menerima sesuatu tanpa menguji, yang lebih memilih jawaban yang nyaman daripada pertanyaan yang menyakitkan. Maka ia menawarkan tiga senjata: Materialisme, Dialektika, Logika.
Ia membuka Madilog bukan dengan dalil, melainkan dengan dongeng. Sebuah kisah sabda Dewa Rah, matahari yang mengaku ada lebih dulu dari dunia, lalu menciptakan segalanya hanya dengan kata. Sebuah kisah yang indah, tapi juga sebuah jebakan. Sebab di situlah logika mistika bekerja paling licin, bukan sebagai kebodohan yang kasar, melainkan sebagai keindahan yang membius, cerita yang begitu meyakinkan hingga orang lupa bertanya dari mana asalnya sabda itu sendiri. Baginya, logika mistika bukan sekadar takhayul di pinggir kehidupan. Ia jalan pintas yang diambil manusia saat kenyataan terlalu berat untuk dipikul sendirian. Tan Malaka menulis, dengan getir, "Lapar tak berarti kenyang buat si miskin." kalimat yang menampar siapa pun yang masih percaya bahwa doa bisa menggantikan nasi, bahwa mantra bisa menggantikan kerja. Maka ketika ia berkata, "Kalau tidak tahu, katakan saja tidak tahu. Jangan mengarang jawaban dengan logika mistika," itu bukan sekadar nasihat metodologis. Itu tuntutan moral. Sebab bagi Tan Malaka, mengarang jawaban bukan cuma kesalahan berpikir tetapi bentuk pengkhianatan terhadap penderitaan yang nyata. Setiap kali manusia memilih mitos ketimbang pertanyaan, ia sesungguhnya sedang menunda keadilan.
Namun, semakin jauh membaca Madilog, semakin muncul sebuah pertanyaan kerikil yang perlahan menumpuk menjadi gunung, apakah logika dapat tumbuh hanya dengan menyuruh manusia berpikir logis? Ataukah logika membutuhkan taman tempat ia bisa ditanam? Sebab pohon tidak tumbuh hanya karena diteriaki agar menjadi tinggi. Ia membutuhkan tanah, air, cahaya.
Begitu pula manusia. Meminta masyarakat berpikir rasional tanpa melihat kondisi yang membentuk mereka mungkin sama seperti menyalahkan bunga yang tidak mekar, tanpa pernah memeriksa apakah akarnya mendapat air. Indonesia pada 1943 bukan ruang yang bebas. Masyarakat hidup dalam bayang-bayang kolonialisme, keterbatasan pendidikan, dan akses ilmu yang tidak merata. Maka pertanyaannya menjadi lebih rumit: apakah masyarakat benar-benar memilih untuk tidak berpikir, atau mereka hanya tidak pernah diberi cukup kesempatan untuk belajar bagaimana berpikir?
Di titik inilah pemikiran Tan Malaka menjadi menarik, bukan karena selalu benar, justru karena berani memberikan sesuatu yang dapat diperdebatkan. Sebuah pemikiran yang hidup bukan pemikiran yang hanya dipuji, melainkan yang mampu bertahan ketika disentuh pertanyaan. Mungkin kritik terbesar terhadap Tan Malaka bukan bahwa ia terlalu mencintai logika, melainkan bahwa ia mungkin terlalu percaya satu metode berpikir bisa menjadi kunci untuk seluruh pintu kehidupan manusia. Sebab manusia bukan hanya makhluk yang menghitung. Ia juga makhluk yang mengingat, yang menciptakan lagu, mitos, agama, seni, simbol. Hal-hal yang tak selalu terukur dengan angka, tapi tetap punya kekuatan menggerakkan sejarah. Bukankah banyak manusia rela mati bukan karena keadaan material, melainkan karena sebuah gagasan? Bukankah kemerdekaan Indonesia sendiri lahir dari sesuatu yang tak sepenuhnya berbentuk materi namun dari bayangan tentang bangsa yang belum ada, tapi dipercaya harus diperjuangkan?
Mungkin Hegel tidak sepenuhnya salah ketika berkata ide memiliki kekuatan. Mungkin Marx juga tidak sepenuhnya salah ketika berkata ide tidak pernah lahir dari ruang kosong. Mungkin manusia memang pertemuan antara tanah dan langit berkaki yang berpijak pada kenyataan, tapi berkepala yang selalu menatap kemungkinan.
Pada akhirnya, membaca Madilog bukan hanya membaca Tan Malaka. Ia perjalanan membaca sejarah pemikiran manusia. Dari Hegel yang melihat dunia lewat gerak kesadaran, menuju Marx yang melihat dunia lewat gerak materi, hingga Tan Malaka yang mencoba menjadikan logika sebagai alat pembebasan.
Tapi Tan Malaka sendiri, yang membongkar sabda Dewa Rah, barangkali lupa satu hal, setiap kali manusia menemukan alat yang mampu membongkar segalanya, ia rentan jatuh cinta pada alat itu sendiri. Logika, yang lahir untuk mempertanyakan, bisa diam-diam berubah menjadi berhala baru yang dipuja bukan karena ia benar, tapi karena ia terasa aman. Maka ujian terbesar sebuah logika bukanlah ketika ia mampu membongkar kesalahan orang lain. Ujian terbesarnya adalah ketika ia berani mengarahkan pisaunya kepada dirinya sendiri, dan bertanya, dari mana aku yakin bahwa caraku berpikir ini benar?
Sebab begitu sebuah cara berpikir berhenti bertanya pada dirinya sendiri, ia tidak lagi menjadi logika. Ia berubah menjadi keyakinan, sebuah sabda yang baru, kepercayaan yang berganti jubah.






Komentar (0)