Bisnis.com, MALANG — Luasan pertanian organik di Kab. Bondowoso, Jatim, terus berkembang menembus 230 hektare, karena produktivitas hingga 8,5 ton/hektare, lebih tinggi dari rerata produksi nasional 5,2 ton/hektare.
Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid, mengatakan sinergi penguatan ketahanan pangan yang diinisiasi bersama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah mendorong perluasan lahan organik secara masif sebagai produk unggulan.
"Pertanian di Bondowoso terus berkembang dengan mengadopsi pendekatan ramah lingkungan. Saat ini, kegiatan pertanian organik telah mencapai 230 hektare yang tersebar di Desa Sulek, Desa Lombok Kulon, dan Desa Gadingsari," ungkap Abdul Hamid dikutip Senin (20/7/2026).
Rektor UMM, Prof. Nazaruddin Malik, menegaskan langkah inovatif kampus tersebut di Bondowoso telah memantik semangat kampus-kampus lain untuk ikut serta berkontribusi nyata dalam pembangunan ekonomi masyarakat.
"UMM di Kabupaten Bondowoso juga memelopori minat dari perguruan tinggi-perguruan tinggi lain untuk terlibat langsung di dalam pembangunan masyarakat. Di antaranya adalah Universitas Negeri Jember, Politeknik Negeri Jember, Universitas Muhammadiyah Jember, dan Universitas Bondowoso untuk bersama-sama membangkitkan gairah berkontribusi langsung bagi kehidupan masyarakat," tegasnya.
Saat ini terdapat 145 hektare lahan padi organik binaan UMM saat ini, yang terdiri dari 105 hektare lahan tersertifikasi penuh dan 40 hektare lahan perluasan baru.
Baca Juga
- Pacu Produktivitas Padi di Sumbar, Pertanian Organik MTOT Diperluas
- Sumedang Dorong Investasi Pertanian Organik Sirkular Senilai Rp139 Miliar
- Sertifikasi Mahal dan Rumit Dinilai Hambat Perkembangan Pertanian Organik RI
Dari total lahan binaan tersebut, produksi panen perhektarenya mencatatkan hasil yang sangat memuaskan, yakni rata-rata mencapai 6,5 hingga 7,8 ton/hektare, bahkan ada yang mampu menembus 8 hingga 8,5 ton/hektare pada lahan yang telah menerapkan sistem organik lebih dari empat tahun.
Menurutnya, pencapaian produktivitas yang jauh melampaui rata-rata nasional sebesar 5,2 ton per hektare ini menjadi bukti kuat bahwa program inovasi berkelanjutan dari UMM tidak hanya menjaga kelestarian ekosistem pertanian, tetapi juga secara langsung melipatgandakan kesejahteraan dan hasil panen para petani lokal.
Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek, Prof. Yudi Darma, menilai ekosistem inovasi yang dipimpin UMM sukses membuktikan bahwa sains mampu diaplikasikan menjadi solusi nyata.
"Di sini, sains berubah wujud menjadi pupuk organik, menjadi teknik tanam yang presisi, dan pada akhirnya menjadi peningkatan panen di lumbung-lumbung petani. Sains tidak lagi berjarak, melainkan sudah membumi," jelasnya.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Al-Barokah, Abdul Basit, menyebutkan pendampingan pakar UMM mampu mendongkrak hasil panen hingga 2 ton per hektare dibanding saat memakai bahan kimia.
"Kalau pakai punya produk pupuk organik UMM, asalkan rutin penyemprotannya itu bisa tujuh sampai 8 ton per hektare. Sebelumnya itu cuma enam hektare waktu pakai kimia," ucapnya. (K24)






Komentar (0)