Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan negaranya tidak akan mengakhiri perang dengan Amerika Serikat (AS) sebelum memperoleh keunggulan di medan perang. Menurutnya, negosiasi hanya akan dilakukan ketika Iran berada pada posisi yang kuat secara militer dan strategis.
Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi dalam wawancara dengan kantor berita pemerintah Iran, IRNA, di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara Teheran dan Washington.
Araghchi mengatakan salah satu keputusan paling penting dalam sebuah konflik adalah menentukan waktu yang tepat untuk mengakhiri perang dan memulai proses perundingan. Ia menilai perang umumnya berakhir melalui kemenangan militer yang menentukan atau melalui jalur diplomasi.
"Waktu yang tepat untuk bernegosiasi adalah ketika Anda telah mencapai keberhasilan lapangan dan strategis yang andal di bidang militer," kata Araghchi, dikutip Senin (20/7/2026).
Ia menegaskan setiap keputusan mengenai kelanjutan perang harus mempertimbangkan berbagai aspek secara matang. Menurutnya, keselamatan warga negara dan kepentingan nasional harus menjadi dasar dalam menentukan langkah selanjutnya.
Baca Juga: Serangan AS ke Iran Tewaskan Lebih dari 50 Orang, Anak-anak Turut Jadi Korban
Araghchi juga meminta para pembuat kebijakan terus mengevaluasi manfaat dan risiko dari konflik yang sedang berlangsung. Ia menilai perang hanya layak diteruskan apabila masih memberikan keuntungan strategis bagi negara.
Meski mengakui Iran mengalami sejumlah kerugian selama konflik dengan Amerika Serikat, Araghchi menyebut negaranya tetap menjadi salah satu aktor penting di panggung internasional. Ia juga menilai sistem pemerintahan Iran mampu menunjukkan ketahanan dalam menghadapi tekanan perang yang terus berlangsung.






Komentar (0)