Argentina harus mengakui keunggulan Spanyol dengan skor 0-1 melalui gol Ferran Torres pada babak perpanjangan waktu di Stadion New York/New Jersey (MetLife Stadium), East Rutherford, Minggu (19/7) waktu setempat.
Dalam seremoni penyerahan medali perak, Presiden FIFA Gianni Infantino dan Donald Trump berada di podium untuk menyerahkan medali kepada para pemain Argentina.
Lisandro Martinez menjadi pemain yang paling mencuri perhatian. Bek Manchester United itu menerima medali tanpa berjabat tangan dengan Gianni Infantino maupun Donald Trump sebelum melanjutkan langkahnya meninggalkan podium.
Sementara itu, Cristian Romero sempat berjabat tangan dengan Infantino yang menyerahkan medalinya. Namun, bek Tottenham Hotspur tersebut terlihat langsung melewati Donald Trump tanpa memberikan salam. Romero justru memilih berjabat tangan dengan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum serta Perdana Menteri Kanada Mark Carney yang juga berada di atas podium.
Baca Juga :
Pemain Spanyol dan Argentina Terlibat Keributan Seusai Final Piala Dunia 2026En la entrega de las medallas, Cuti Romero y Licha Martínez le negaron el saludo al genocida Donald Trump.
Los dos centrales de la selección nacional, además de dejarlo todo en la cancha, se negaron a saludar al presidente de los Estados Unidos, Donald Trump. pic.twitter.com/qhHKyAPvke
Di sisi lain, Donald Trump juga menjadi perhatian karena tetap berada di atas podium ketika kapten Spanyol, Rodri, mengangkat trofi Piala Dunia 2026 bersama rekan-rekannya. Kehadiran Presiden Amerika Serikat dalam seremoni tersebut menjadi salah satu topik yang ramai diperbincangkan sepanjang final. Scaloni Isyaratkan Masa Depannya Kekalahan dari Spanyol juga meninggalkan kesedihan mendalam bagi pelatih Argentina, Lionel Scaloni. Dalam konferensi pers seusai pertandingan, pelatih yang membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 2022 dan dua edisi Copa America itu tampak menahan air mata ketika ditanya mengenai masa depannya.
Scaloni mengaku membutuhkan waktu untuk mempertimbangkan kelanjutan kariernya bersama Tim Tango.
"Saya perlu berpikir. Saya tidak tahu apakah saya masih mampu melakukan sesuatu yang lebih besar dari ini. Kami telah memberikan segalanya hingga detik terakhir," ujar Scaloni.
Ia menambahkan bahwa membangun kembali tim dengan kualitas seperti skuad saat ini bukanlah perkara mudah.
"Tempat ini adalah impian semua orang. Tetapi untuk melanjutkan, banyak hal yang dibutuhkan. Kami perlu memulai lagi. Membangun kelompok seperti ini akan sangat sulit. Itu membuat hati saya hancur," katanya.
Meski belum memastikan akan mundur, pernyataan Scaloni memunculkan spekulasi bahwa era kepelatihannya bersama Argentina bisa saja segera berakhir setelah perjalanan panjang yang menghasilkan berbagai gelar bergengsi.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ASM)






Komentar (0)