Bisnis.com, GARUT- Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Garut mengimbau petani tidak memaksakan menanam padi pada musim tanam saat ini.
Menghadapi kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang, petani diarahkan mengalihkan pola tanam ke komoditas palawija untuk mengurangi risiko gagal panen sekaligus menjaga pendapatan.
Langkah tersebut ditempuh setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus 2026.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut Ardhy Firdian mengatakan, pihaknya telah menyebarkan surat edaran kepada petani sebagai pedoman menghadapi ancaman kekeringan.
Dalam surat tersebut, petani diminta memprioritaskan penanaman palawija dibandingkan padi, terutama di wilayah yang diperkirakan mengalami keterbatasan air.
“Instruksinya sekarang palawija saja, tetap palawija, tidak dianjurkan menanam padi dalam kondisi seperti ini. Kami sudah menyebarkan surat edaran berikut langkah-langkah penanganan kekeringan,” kata Ardhy di Garut, Senin (20/7/2026).
Baca Juga
- BBKSDA Diduga Babat 803 Pohon Kopi Petani di Garut
- Harga Gabah Membaik, Giliran Hama Tikus Hantui Petani
- Prabowo Bakal Luncurkan Motor Listrik Nasional, Petani Diprioritaskan
Menurut dia, perubahan pola tanam menjadi strategi paling realistis untuk meminimalkan kerugian ekonomi petani. Menanam padi di tengah ancaman kemarau panjang berisiko menyebabkan pertumbuhan tanaman terganggu hingga gagal panen apabila pasokan air tidak mencukupi.
Karena itu, Dispertan mendorong petani memilih komoditas yang lebih toleran terhadap kondisi lahan kering. Selain tetap dapat dibudidayakan pada musim kemarau, tanaman tersebut juga dinilai mampu memberikan hasil ekonomi tanpa membutuhkan irigasi yang besar.
“Tidak harus melalui tanaman padi yang memang kebutuhan airnya sangat tinggi. Petani bisa menanam komoditas yang lebih kuat terhadap keterbatasan air,” ujar Ardhy.
Sejumlah tanaman yang direkomendasikan antara lain jagung, ubi, berbagai jenis kacang-kacangan, hingga tembakau. Komoditas tersebut dinilai lebih mampu bertahan ketika curah hujan menurun dibandingkan tanaman padi.
“Jagung pasti bisa, tembakau masih aman,” katanya.
Meski demikian, Ardhy menegaskan imbauan tersebut bukan berarti melarang petani menanam padi. Petani tetap diperbolehkan menanam padi apabila berada di kawasan yang memiliki sumber air memadai dan jaringan irigasi yang berfungsi dengan baik.
Menurut dia, masih terdapat sejumlah daerah di Kabupaten Garut yang memiliki sistem irigasi teknis dan sumber mata air stabil sehingga sawah di wilayah tersebut diperkirakan tidak terdampak kekeringan selama musim kemarau berlangsung.
“Kalau kondisi infrastrukturnya atau irigasinya masih memungkinkan, tidak masalah untuk menanam padi. Tapi kalau sudah tahu pasti akan terjadi kekeringan, jangan memaksa tanam padi,” ujarnya.
Secara ekonomi, perubahan pola tanam ini diharapkan mampu menjaga produktivitas lahan pertanian sekaligus menghindarkan petani dari kerugian yang lebih besar akibat puso.
Selain itu, diversifikasi komoditas juga dinilai dapat menjaga aktivitas ekonomi pedesaan selama musim kemarau, ketika produksi padi berpotensi menurun.
Ardhy mengatakan, sejumlah kawasan pertanian di Garut menunjukkan sebagian petak sawah mulai mengering seiring berkurangnya intensitas hujan dalam beberapa pekan terakhir.
Di sejumlah lokasi, saluran irigasi tampak mengalami penurunan debit air sehingga sebagian petani mulai menyiapkan lahan untuk ditanami jagung maupun kacang-kacangan.
Ia menambahkan, pihaknya akan terus memastikan memantau perkembangan kondisi cuaca dan ketersediaan air di sentra-sentra pertanian.
"Evaluasi dilakukan agar rekomendasi pola tanam dapat disesuaikan dengan kondisi di lapangan sehingga risiko kerugian akibat kemarau panjang dapat ditekan dan keberlanjutan produksi pertanian di Kabupaten Garut tetap terjaga," tuturnya.






Komentar (0)