Jakarta, CNBC Indonesia - Kenaikan BI Rate dinilai belum langsung menekan penjualan mobil nasional. Namun, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) mengingatkan dampak terbesar justru muncul ketika konsumen memilih menunda pembelian kendaraan akibat bunga kredit yang lebih tinggi.
Industri otomotif menilai perubahan suku bunga membutuhkan waktu sebelum benar-benar dirasakan konsumen. Selain melalui perbankan, keputusan membeli mobil juga dipengaruhi tingkat kebutuhan masing-masing calon pembeli.
"Dari BI kemudian ke bank, dari bank kemudian ke potential customer. Kalau diterjemahkan langsung ke customer, mereka juga punya cara menghadapinya, apakah ambil sekarang atau tidak. Kalau langsung dilakukan adjustment, dampaknya luar biasa. Potential customer bisa cenderung bilang, ya sudah nanti saja," kata Sekjen GAIKINDO Kukuh Kumara kepada CNBC Indonesia, Senin (20/7/2026).
Keputusan menunda pembelian kendaraan dapat menjadi persoalan serius bagi industri. Sebab, kendaraan yang sudah diproduksi tetap harus disimpan di gudang dan menimbulkan tambahan biaya bagi produsen maupun jaringan distribusi.
Karena itu, setiap merek memiliki strategi berbeda untuk menjaga penjualan tetap berjalan. Besarnya dampak juga tidak bisa disamaratakan karena bergantung pada kebijakan internal masing-masing perusahaan.
"Kalau sudah hold biasanya panjang. Tidak cukup seminggu dua minggu, bisa dua, tiga, empat bulan. Kita kehilangan momentum. Kendaraan sudah dibuat di pabrik, tidak bisa dilipat, makan tempat storage dan biaya juga," ujar Kukuh.
Memang tidak ada patokan pasti kapan dampak kenaikan bunga akan terasa terhadap penjualan. Setiap produsen memiliki kemampuan yang berbeda dalam menghadapi perubahan pasar.
"Ini relatif tergantung dari masing-masing brand. Mereka punya cushion (bantalan) berapa lama. Tidak bisa digeneralisasi tiga atau empat bulan. Harus melihat historical data dan kebijakan masing-masing perusahaan," kata Kukuh.
Meski waspada terhadap risiko tersebut, Gaikindo melihat penjualan hingga pertengahan tahun masih menunjukkan tren positif sehingga industri memilih terus memantau perkembangan sebelum mengambil langkah lebih jauh.
"Indikasinya justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Penjualan Januari sampai Juni dibanding tahun lalu lebih baik. Kita tetap hati-hati, tetapi masih positif," sebut Kukuh.
(dce) Add as a preferred
source on Google





Komentar (0)