HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAROS – Kabar duka dari Armenia mengguncang keluarga seorang pemuda asal Moncongloe, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Valenth A Tambuto (24) ditemukan meninggal dunia di kamar mes tempatnya bekerja di Kota Yerevan, Armenia.
Yang membuat keluarga terpukul, korban disebut ditemukan dengan tangan, kaki, dan mulut terlilit lakban. Hingga kini, penyebab kematian Valenth masih menunggu hasil penyelidikan otoritas Armenia. Apakah korban pembunuhan?
Peristiwa meninggalnya Valenth A Tambuto menyisakan banyak tanda tanya bagi keluarga. Pemuda asal Kecamatan Moncongloe, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, itu ditemukan tidak bernyawa di kamar mes perusahaan tempatnya bekerja di Kota Yerevan, Armenia.
Valenth diketahui bekerja sebagai tenaga di bidang teknologi informasi (IT) pada sebuah perusahaan konsultan. Ia baru sekitar tiga bulan menetap di Armenia setelah sebelumnya menjalani pekerjaan di beberapa negara lain.
Kabar meninggalnya Valenth pertama kali diterima keluarga pada Rabu (15/7) malam. Sebelum kabar tersebut datang, sang adik, Arnold Tambuto, mengaku masih sempat berbincang dengan kakaknya melalui aplikasi Telegram.
“Kakak saya yang meninggal di Armenia. Almarhum bekerja di sana di bidang IT di perusahaan konsultan IT,” ujar Arnold Tambuto kepada wartawan, Minggu (19/7/2026).
Menurut Arnold, komunikasi terakhir berlangsung sekitar pukul 01.00 Wita atau masih Selasa malam waktu Armenia. Setelah percakapan itu, nomor dan akun Telegram milik korban tidak lagi aktif.
“Saya masih sempat komunikasi dengan kakak saya via Telegram. Pagi saya chat sudah tidak aktif, siang saya chat lagi juga tidak aktif. Saya pikir karena hari itu dia sedang rest day atau hari istirahat,” katanya.
Berawal Kecurigaan PacarKeluarga mengaku baru mengetahui kabar duka tersebut setelah menerima informasi dari salah seorang paman. Informasi itu berasal dari kekasih Valenth, Tati, yang tinggal di Filipina.
Arnold menjelaskan, Tati merasa ada yang tidak biasa karena sepanjang hari tidak berhasil menghubungi Valenth. Padahal, keduanya hampir selalu berkomunikasi setiap jam.
Karena khawatir, Tati meminta rekan kerja korban di Armenia untuk memeriksa kondisi Valenth di kamar mes.
“Pacarnya minta dicek di kamar karena biasanya mereka komunikasi hampir tiap jam. Waktu dicek, katanya ada orang di dalam tertutup selimut seperti sedang tidur. Setelah dibuka ternyata sudah tidak bernyawa,” ungkap Arnold.
Setelah penemuan tersebut, pihak perusahaan kemudian berupaya mencari informasi mengenai keluarga korban hingga akhirnya kabar itu diteruskan kepada kerabat Valenth di Indonesia.
“Setelah itu dicarilah informasi keluarga almarhum dan melalui teman yang sekarang berada di Manado, pacar almarhum memberikan informasi dan diteruskan ke om kami,” lanjutnya.
Keluarga TerpukulKondisi jenazah yang diterima keluarga dari informasi awal membuat mereka semakin terpukul. Arnold mengatakan korban disebut ditemukan dengan kaki, tangan, dan mulut terlilit lakban.
Meski begitu, keluarga masih menunggu keterangan resmi dari aparat penegak hukum di Armenia mengenai penyebab pasti kematian Valenth.
“Kondisi jenazah katanya terikat lakban. Kaki, tangan, dan mulut itu terikat lakban. Waktu itu saya syok saya matikan telepon saya tidak dengar jauh lagi, tapi infonya saya dengar memang waktu dibuka ada banyak darah,” beber Arnold.
Hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari pihak berwenang Armenia mengenai apakah kematian tersebut berkaitan dengan tindak pidana ataupun penyebab lainnya.
Baru Tiga Bulan di ArmeniaArnold mengungkapkan, sang kakak memiliki pengalaman bekerja di luar negeri sebelum akhirnya berangkat ke Armenia.
Sebelumnya Valenth pernah bekerja di Filipina, kemudian melanjutkan pekerjaan di Madagaskar selama sekitar dua bulan. Ia sempat pulang ke Makassar pada Maret 2026 sebelum kembali menerima pekerjaan di Armenia pada April 2026.
“Dia di Armenia baru tiga bulan. Sebelumnya sempat di Filipina, terus di Madagaskar dua bulan, lalu pulang ke Makassar bulan Maret. Satu bulan di sini, lalu bulan April dia berangkat ke Armenia,” ungkap Arnold.
Tunggu Pemulangan JenazahSaat ini keluarga terus berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk memperoleh perkembangan terbaru mengenai penyelidikan sekaligus proses pemulangan jenazah.
Harapan keluarga, jenazah Valenth dapat segera dipulangkan ke kampung halamannya di Kecamatan Moncongloe, Kabupaten Maros, agar dapat dimakamkan bersama keluarga.
Sementara itu, penyebab kematian Valenth masih menunggu hasil penyelidikan resmi dari aparat berwenang di Armenia.






Komentar (0)