Wacana pemerintah untuk mengevaluasi sasaran penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memicu perdebatan baru.
Usulan Presiden Prabowo agar siswa dari keluarga mampu tidak lagi menerima manfaat program tersebut dinilai berpotensi memunculkan persoalan sosial di lingkungan sekolah.
Pengamat politik Hendri Satrio menilai kebijakan tersebut bisa menjadi langkah yang keliru apabila benar-benar diterapkan. Menurutnya, negara berisiko menciptakan sekat berdasarkan kondisi ekonomi di antara para siswa.
"Ada wacana dari BGN, murid kaya dan kaya sekali dalam sekolah yang sama tidak akan dapat MBG. Salah ini menurut saya," kata dia melalui akun X belum lama ini.
Hendri mengingatkan bahwa sekolah selama ini menjadi ruang yang berupaya menghapus perbedaan status sosial antarpeserta didik. Jika hanya sebagian siswa yang menerima MBG berdasarkan tingkat ekonomi keluarganya, hal itu dikhawatirkan memicu gesekan.
Baca Juga: Militan Gibran Sentil PDIP Banyak Cincong soal Safari Politik Jokowi
"Kalau ini diberlakukan, negara sudah membedakan 'kelas' warganya. Bisa terjadi gesekan antarkelas yang runcing," ujarnya.
Ia kemudian menyinggung alasan mengapa siswa di Indonesia diwajibkan mengenakan seragam sekolah dan sepatu berwarna hitam sejak jenjang SD hingga SMA. Menurutnya, aturan tersebut dibuat agar tidak terlihat perbedaan antara anak dari keluarga berada dan kurang mampu.
"Kenapa kita SD, SMP, SMA dikasih seragam, harus sepatu hitam? Agar tidak ada pembeda antara anak kaya dan anak miskin," ungkapnya.
Atas dasar itu, Hendri menyarankan pemerintah mengkaji ulang mekanisme penyaluran MBG. Ia berpandangan program tersebut sebaiknya lebih difokuskan ke daerah-daerah yang memang membutuhkan, atau skema distribusinya diubah agar tidak menimbulkan stigma di lingkungan sekolah.
"Semestinya MBG konsentrasi ke daerah miskin yang memerlukan atau melakukan perubahan skema pemberian MBG," tambahnya.
Baca Juga: Deadline 1 Bulan! Zulhas Janji Bereskan Kisruh MBG
Sebelumnya, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Agustina Arumsari mengungkapkan bahwa pemerintah tengah mengkaji ulang kelompok penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis.
Menurut Agustina, salah satu opsi yang dibahas dalam rapat yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto adalah menghentikan pemberian MBG kepada siswa yang berasal dari keluarga pada kelompok ekonomi mampu.
"Tadi ada diskusi-diskusi di dalam bahwa untuk mereka yang katakanlah ada di desil 8, 9, 10 yang mapan, kaya, kaya sekali, itu memang tidak akan diberikan lagi," ungkap Agustina.






Komentar (0)