Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup menguat pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.944 pada Jumat, 17 Juli 2026. Posisi rupiah itu menguat 97 poin dari kurs sebelumnya di level 18.041 pada perdagangan Kamis, 16 Juli 2026.
Sementara perdagangan di pasar spot pada Senin, 20 Juli 2026 hingga pukul 09.06 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.994 per dolar AS. Posisi itu melemah 73 poin atau 0,41 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.921 per dolar AS.
- istockphoto.com
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, Bank Indonesia (BI) merilis hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) kuartal II-2026 yang terpantau meningkat.
BI melaporkan, Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pada kuartal II-2026 berada di 12,97 persen, meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yakni 10,11 persen.
Meningkatnya kegiatan usaha tersebut didorong oleh kenaikan kinerja mayoritas Lapangan Usaha (LU) utama, antara lain LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, LU Konstruksi, dan LU Pertambangan dan Penggalian sejalan dengan aktivitas usahanya.
Serta, LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sejalan dengan permintaan terjaga pada rangkaian periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), dan high season liburan sekolah pada kuartal II-2026.
Sejalan dengan itu, kapasitas produksi terpakai pada kuartal II-2026 tercatat sebesar 73,8 persen. Lebih tinggi ketimbang realisasi kuartal sebelumnya yang sebesar 73,33 persen.
Peningkatan kapasitas produksi terpakai terutama ditopang oleh LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, LU Pertambangan dan Penggalian, dan LU Pengadaan Listrik.
"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp 17.870-Rp 17.930," ujarnya.
Sebagai informasi, gelombang serangan AS lainnya terhadap target Iran dilakukan pada hari Kamis, sehari setelah serangan merusak sebuah kapal tanker minyak di dekat terminal ekspor utama Iran. Permusuhan yang diperbarui telah memperpanjang konflik Timur Tengah, menjaga harga minyak mentah tetap tinggi dan menghidupkan kembali kekhawatiran bahwa biaya energi yang lebih tinggi dapat memicu kembali inflasi.
Teheran membalas dengan rudal dan drone yang menargetkan pangkalan militer AS di negara-negara tetangga, termasuk serangan gencar di pangkalan udara yang baru diperluas di Yordania. Hal itu menambah kekhawatiran pasokan minyak.






Komentar (0)