Dolar AS Menguat Tipis Seiring Memanasnya Kembali Konflik AS-Iran

idxchannel.com
23 jam lalu
Cover Berita

indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang enam mata uang utama dunia, naik 0,1 persen menjadi 100,84.

Dolar AS Menguat Tipis Seiring Memanasnya Kembali Konflik AS-Iran. Foto: Freepik.

IDXChannel - Dolar AS menguat tipis terhadap sebagian besar mata uang utama dunia pada awal perdagangan Asia, Senin (20/7/2026) seiring meningkatnya konflik di Timur Tengah. Harga minyak naik, sementara kepercayaan investor mulai rapuh setelah gejolak pasar pada pekan lalu.

Melansir Reuters, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang enam mata uang utama dunia, naik 0,1 persen menjadi 100,84.

Baca Juga:
Polri Beberkan Alasan Libatkan FBI untuk Uji Keaslian Dolar Sitaan Kasus Eks Jampidsus Febrie

Dolar AS naik 0,1 persen menjadi 162,48 yen, level tertinggi sejak 9 Juli, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik yang mendorong investor mencari aset safe haven.

Euro melemah 0,1 persen ke USD1,1426, sementara poundsterling Inggris stabil di USD1,3445. Dolar Australia turun 0,1 persen ke USD0,6975, sedangkan dolar Selandia Baru melemah 0,2 persen ke USD0,5833.

Baca Juga:
Rupiah Hari Ini Ditutup Menguat ke Rp17.921 per Dolar AS

“Pasar valuta asing relatif tenang, dengan dolar AS secara umum stabil. Sementara itu, dolar Australia melemah terhadap dolar AS maupun sebagian besar mata uang utama lainnya,” tulis analis Westpac dalam laporan risetnya.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent melonjak 3,3 persen menjadi USD90,97 per barel pada awal perdagangan Asia, setelah AS mengumumkan telah memulai sembilan malam beruntun serangan terhadap Iran. Sebelumnya, Washington juga mengumumkan sedikitnya dua personel militernya tewas di Yordania.

Baca Juga:
Rupiah Ditutup Menguat, Kembali ke Bawah Rp18.000 per Dolar AS

Pelaku pasar masih memperkirakan Federal Reserve mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya yang dijadwalkan berlangsung pada 29 Juli. Kontrak berjangka Fed Funds mencerminkan probabilitas 85,6 persen bahwa bank sentral akan menahan suku bunga, naik dibandingkan peluang 61,5 persen sebulan lalu, berdasarkan alat FedWatch milik CME Group.

Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, pada Jumat lalu menambah daftar pejabat bank sentral yang berpendapat suku bunga kemungkinan masih perlu dinaikkan untuk menekan inflasi yang tetap tinggi. Hal ini membuka peluang terjadinya perdebatan sengit pada pertemuan The Fed berikutnya, sekaligus kemungkinan munculnya perbedaan pendapat (dissent) pada rapat kedua yang dipimpin Ketua The Fed Kevin Warsh.

(NIA DEVIYANA)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Jakarta Mulai Tinggalkan Open Dumping, Warga Didorong Pilah Sampah dari Rumah
• 19 jam lalu
0
thumb
Usung Misi Zero Hunger, Presiden Prabowo Perintahkan Menteri Belajar ke India hingga Brasil
• 5 jam lalu
0
thumb
Harga Minyak Brent Tembus US$ 90 Imbas Serangan di Selat Hormuz
• 23 jam lalu
0
thumb
Eldest Daughter Syndrome: Kisah Sulung yang Dipaksa Dewasa
• 15 jam lalu
0
thumb
Awas Hoaks, UIN Alauddin Tak Pernah Beri Dukungan Politik Ke Husniah Talenrang
• 16 jam lalu
0
Berhasil disimpan.