REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL — Berawal dari keresahan terhadap tingginya angka konsumsi gula yang memicu ancaman diabetes, sekelompok pelajar SMA asal Indonesia sukses menciptakan sebuah terobosan medis inovatif di kancah internasional.
Lewat karya berjudul ‘GlucoStrip, Virty Kiraina Rowi bersama timnya berhasil merebut perhatian dunia dan memboyong medali Emas (Gold Award) pada ajang World Invention Creativity Olympic (WICO) 2026 di Korea Selatan.
Baca Juga
Bangkit Setelah Kegagalan
Konflik AS-Iran Berlanjut, RI Perlu Antisipasi Dampak pada Perdagangan dan Energi
Tarkam, Pemain Argentina Pukul dan Tendang Pemain Spanyol
Prestasi gemilang di panggung dunia ini sukses diukir oleh remaja berbakat yang akrab disapa Kirei tersebut bersama rekan satu timnya: Indira Aulia Ramadhani, Maylaffathiya Alya Mumtaz, Rumaisha Nagib, dan Shaffaira Zahra Adityazka. Tim siswa SMA berprestasi ini berhasil menaklukkan kompetisi ilmiah internasional berkategori elite yang berlangsung pada 16-18 Juli 2026 kemarin.
Nilai kompetisi tahun ini pun terasa jauh lebih bergengsi karena diselaraskan langsung dengan pameran global Asia LOHAS yang berbasis konsep ramah lingkungan.
.rec-desc {padding: 7px !important;} Panggung Inovator Muda Se-Dunia
WICO bukanlah kompetisi kaleng-kaleng. Diselenggarakan oleh Korea Uiversity Invention Association (KUIA) dan didukung oleh parlemen Korea Selatan, ajang tahunan ini menjadi barometer kreativitas pelajar di seluruh dunia. WICO menantang para inovator muda untuk mempresentasikan ide-ide segar, strategi baru, serta produk inovatif yang mampu menjawab tantangan global.
Pada gelaran tahun 2026 ini, persaingan terasa begitu ketat. Lantaran ratusan penemu muda dari puluhan negara datang membawa teknologi dan gagasan terbaik. Mereka diuji oleh dewan juri internasional yang terdiri dari para pakar, akademisi, dan praktisi industri global.
Integrasi antara kompetisi WICO dengan gerakan Asia LOHAS (Lifestyle of Health and Sustainability) memberikan warna pada standarisasi penilaian tahun ini. melalui parameter ESG (Environmental, Social, and Governance), tim juri tidak hanya mencari terobosan teknologi yang mutakhir ansich. Lebih dari itu, setiap hasil inovasi dituntut memiliki nilai guna yang peka terhadap aspek sosial, mendukung pola hidup sehat, serta aman bagi ekosistem masa depan bumi.
Komentar (0)