Harga emas diperkirakan masih bergerak terbatas pada pekan ini setelah membukukan penurunan mingguan terbesar dalam enam pekan.
IDXChannel - Harga emas diperkirakan masih bergerak terbatas pada pekan ini setelah membukukan penurunan mingguan terbesar dalam enam pekan.
Pelaku pasar menilai risiko inflasi akibat lonjakan harga energi dan potensi suku bunga tinggi di Amerika Serikat (AS) masih menjadi hambatan utama bagi penguatan logam mulia.
Pada perdagangan Jumat (17/7/2026), harga emas spot naik 1,02 persen ke level USD4.017,11 per troy ons.
Namun secara mingguan, emas tetap melemah 2,65 persen setelah sempat menyentuh level terendah sejak 30 Juni.
Eskalasi konflik antara AS dan Iran mendorong kenaikan harga energi dan memicu kekhawatiran inflasi global.
Kondisi tersebut membuat ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga AS kembali menguat, sehingga membatasi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Survei mingguan Kitco News menunjukkan pelaku pasar institusional cenderung pesimistis terhadap prospek emas jangka pendek.
Dari 14 analis Wall Street yang disurvei, sebanyak 79 persen memperkirakan harga emas kembali melemah dalam sepekan ke depan, hanya 7 persen yang memprediksi kenaikan, sementara sisanya memperkirakan pergerakan mendatar.
Kepala strategi mata uang investingLive, Adam Button, menilai tekanan jual di pasar saham teknologi berpotensi meluas menjadi aksi “sell everything” yang turut menyeret harga emas.
Menurut dia, risiko tersebut membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset berisiko maupun aset lindung nilai.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Riset Valuta Asing dan Komoditas Commerzbank, Thu Lan Nguyen.
Ia memperkirakan ruang kenaikan emas dalam jangka pendek masih terbatas karena pasar masih mempertahankan ekspektasi suku bunga tinggi di tengah konflik Timur Tengah dan risiko lonjakan harga energi.
Meski demikian, sejumlah analis melihat level psikologis USD4.000 masih menjadi area pertahanan penting bagi emas.
Presiden dan COO Asset Strategies International, Rich Checkan, mengatakan harga emas telah beberapa kali menguji level tersebut dalam beberapa bulan terakhir dan selalu memicu minat beli baru.
Ia menilai pasar belum siap untuk reli yang berkelanjutan, tetapi peluang rebound dari area support tersebut tetap terbuka.
Sementara itu, Managing Partner sekaligus market strategist Sprott Inc., Paul Wong, menilai emas sudah bergerak terlalu jauh di bawah rata-rata pergerakan 200 hari.
Menurut dia, kondisi tersebut meningkatkan peluang terjadinya pemulihan harga menjelang akhir musim panas.
Di kalangan investor ritel, sentimen masih terbelah.
Dari 169 responden survei online Kitco, sebanyak 40 persen memperkirakan emas menguat pekan ini, 36 persen memprediksi penurunan, dan 24 persen memperkirakan harga bergerak konsolidatif.
Fokus pasar pekan ini akan tertuju pada keputusan kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis, yang diperkirakan mempertahankan suku bunga.
Selain itu, investor juga akan mencermati data klaim pengangguran mingguan AS, indeks PMI S&P Global Flash Juli, serta data penjualan rumah baru AS untuk Juni. (Aldo Fernando)






Komentar (0)