Indonesia kembali melakukan ekspor komoditas kopi. Kini tujuan ekspornya adalah China dan Maroko. Ekspor dilakukan dengan dua kontainer dengan total volume 38,4 ton senilai USD 227.443,2.
Kepala Bappebti Tirta Karma Senjaya menjelaskan bahwa ekspor tersebut juga memanfaatkan Sistem Resi Gudang (SRG). Menurutnya, SRG memang bisa meningkatkan daya saing komoditas nasional, memperluas akses pasar global, serta mendukung peningkatan ekspor Indonesia.
“Pelepasan ekspor ini membuktikan implementasi SRG yang optimal mampu memperkuat daya saing komoditas Indonesia, meningkatkan nilai tambah produk, serta membuka akses pasar internasional yang lebih luas bagi petani dan pelaku usaha,” ujarnya dalam keterangan tertulis dikutip Minggu (19/7).
Dua kontainer tersebut terdiri satu kontainer kopi Robusta Grade 2 sebanyak 19,2 ton senilai USD 71.040 dengan tujuan Maroko dan satu kontainer kopi Arabica Semi Wash sebanyak 19,2 ton senilai USD 156.403,2 dengan tujuan China.
Tak hanya sampai situ, Tirta juga menjelaskan bahwa akan ada ekspor lanjutan yang delapan kontainer kopi Arabica Semi Wash dengan total volume 153,6 ton senilai USD 1.251.225,60 menuju China.
Ia juga menjelaskan, seluruh komoditas kopi tersebut berasal dari Gudang SRG KAI-ASLI Gedebage. Tirta menjelaskan bahwa ekspor kopi tersebut juga menegaskan bahwa kopi yang disimpan melalui mekanisme SRG memiliki mutu yang terjaga dan mampu bersaing di pasar internasional.
Di samping itu, ia menilai SRG bukan hanya instrumen pembiayaan di dalam negeri tapi juga bisa menjadi mata rantai yang menghubungkan petani dan pelaku usaha kopi Indonesia dengan pasar internasional.
“Ke depan, Bappebti akan terus mendorong optimalisasi pemanfaatan SRG sebagai instrumen ekosistem logistik dan pembiayaan yang kuat di hulu dan hilir sebagaimana yang diamanatkan dalam UU No. 9 Tahun 2006 jo UU No. 9 Tahun 2011. Melalui SRG, petani memiliki posisi tawar yang lebih kuat, memperoleh akses pembiayaan yang mudah, serta jaminan kualitas dan kuantitas komoditas,” ujar Tirta.






Komentar (0)