Bisnis.com, PEKANBARU - Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru mulai menapaki langkah awal elektrifikasi transportasi publik sebagai bagian dari komitmen mewujudkan pembangunan rendah emisi melalui konsep Green City atau kota hijau.
Sektor transportasi menjadi salah satu dari 3 program prioritas yang disiapkan pemerintah kota untuk mendukung agenda tersebut, ditandai dengan pengoperasian angkutan pengumpan (feeder) berbasis listrik hingga uji coba bus listrik Trans Metro Pekanbaru (TMP).
Komitmen itu sejalan dengan posisi Pekanbaru yang dipercaya menjadi Ketua Jaringan Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) Green City, yang beranggotakan 38 kota di Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
Pemerintah kota menilai transformasi menuju transportasi publik ramah lingkungan menjadi salah satu instrumen penting untuk menekan emisi sekaligus meningkatkan kualitas layanan angkutan umum.
Wakil Wali Kota Pekanbaru Markarius Anwar sebelumnya menyebutkan, selain pengelolaan sampah dan ruang terbuka hijau, pengembangan transportasi rendah emisi menjadi salah satu program utama dalam mewujudkan konsep Green City di Kota Pekanbaru.
"Saat ini, kami resmi meluncurkan program Green City, yaitu kota yang mengedepankan aspek pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan," kata Markarius Anwar, Kamis (16/7/2026).
Baca Juga
- Gubernur Sumbar Jagokan Spanyol Jadi Juara Piala Dunia 2026, Prediksi Skor 1-0
- Nobar Final Piala Dunia 2026 di Kantor Gubernur Sumbar Berhadiah Sepeda Motor
- Tujuh Korban Laka Beruntun Sibolangit Dirawat di RS Adam Malik
Namun, upaya tersebut tidak dimulai dari pengadaan bus listrik dalam jumlah besar. Pemerintah kota memilih memulai transisi secara bertahap melalui layanan angkutan pengumpan berbasis listrik yang terintegrasi dengan Trans Metro Pekanbaru.
Pada Juni 2025, Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho meluncurkan operasional delapan unit angkutan feeder bertenaga listrik yang diberi nama Oplet AMAN.
Armada tersebut disiapkan untuk menghubungkan kawasan permukiman dengan koridor utama Trans Metro Pekanbaru, sekaligus melayani akses masyarakat menuju Rumah Sakit Daerah (RSD) Madani.
Peluncuran Oplet AMAN menjadi tonggak awal penggunaan kendaraan listrik dalam sistem transportasi publik Pekanbaru.
Selain memperluas jangkauan layanan, keberadaan feeder diharapkan mampu meningkatkan jumlah penumpang Trans Metro Pekanbaru dengan mempermudah masyarakat menjangkau halte maupun koridor utama.
Setahun kemudian, pemerintah kota melangkah lebih jauh dengan menguji coba dua unit bus listrik Trans Metro Pekanbaru.
Uji coba tersebut secara resmi dilepas Wali Kota Agung Nugroho pada Juni 2026 bersamaan dengan peluncuran logo Hari Jadi Kota Pekanbaru ke-242.
Selama masa uji coba, masyarakat dapat menggunakan layanan tersebut tanpa dikenakan tarif. Pemerintah kota memanfaatkan fase ini untuk mengevaluasi berbagai aspek operasional, mulai dari performa kendaraan, pola pelayanan, hingga kesiapan infrastruktur pendukung sebelum memutuskan implementasi dalam skala yang lebih besar.
Meski demikian, langkah-langkah tersebut bukanlah kebijakan yang berdiri sendiri. Di awal masa pemerintahannya, Agung Nugroho menerima paparan hasil kajian Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia mengenai strategi reformasi dan peta jalan elektrifikasi transportasi publik Kota Pekanbaru.
Kajian tersebut dipresentasikan dalam forum yang juga dihadiri jajaran Dinas Perhubungan Kota Pekanbaru dan sejumlah pemangku kepentingan sektor transportasi.
Dalam kajian itu, ITDP menilai Pekanbaru memiliki peluang besar untuk beralih menuju transportasi publik berbasis listrik.
Lembaga tersebut merekomendasikan elektrifikasi dilakukan secara bertahap dengan memulai layanan pengumpan (feeder), sebelum diperluas ke armada utama Trans Metro Pekanbaru.
Pendekatan tersebut dinilai dapat mengurangi risiko implementasi sekaligus memberi ruang bagi pemerintah daerah untuk mempelajari teknologi kendaraan listrik, kebutuhan infrastruktur pengisian daya, hingga model pengelolaan operasional yang paling sesuai.
Kajian ITDP memproyeksikan elektrifikasi penuh transportasi publik Kota Pekanbaru paling cepat dapat tercapai pada 2033. Namun, Wali Kota Agung Nugroho menyatakan optimistis target tersebut dapat dipercepat menjadi 2030.
"Target Pemerintah Kota Pekanbaru secepatnya, mudah-mudahan maksimal 2030 sudah bisa full pakai listrik semua," ujar Agung.
Optimisme itu, menurut Agung, didukung komitmen pemerintah kota dalam memperkuat pelayanan transportasi publik yang lebih modern, efisien, dan ramah lingkungan.
Meski demikian, ITDP mengingatkan bahwa elektrifikasi transportasi publik tidak cukup diwujudkan hanya dengan mengganti armada berbahan bakar minyak menjadi kendaraan listrik.
Transformasi tersebut harus dibarengi reformasi tata kelola transportasi, peningkatan kualitas layanan, penataan model bisnis operator, hingga penyediaan infrastruktur pendukung.
Kajian itu mencatat layanan transportasi publik Pekanbaru saat ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Dari sekitar 110 armada yang dimiliki pemerintah kota, hanya 38 unit yang siap beroperasi setiap hari.
Sementara itu, dari 48 rute transportasi publik yang direncanakan, baru delapan rute Trans Metro Pekanbaru yang aktif melayani masyarakat sehingga cakupan layanannya baru menjangkau sekitar 16% penduduk kota.
Karena itu, ITDP menilai elektrifikasi perlu dipandang sebagai bagian dari reformasi menyeluruh sistem transportasi publik, bukan sekadar program pengadaan bus listrik.
Selain dukungan kebijakan, pembiayaan juga menjadi faktor penting. Direktur ITDP Asia Tenggara Gonggomtua Sitanggang mengatakan pemerintah daerah tidak harus menanggung seluruh investasi secara mandiri.
Menurutnya, berbagai skema pembiayaan kreatif dapat diterapkan, mulai dari pemanfaatan pendapatan pajak reklame hingga kerja sama dengan sektor swasta.
Ia mencontohkan, pengadaan armada maupun pembangunan infrastruktur pengisian daya tidak selalu harus dimiliki pemerintah.
Yang terpenting adalah adanya kepastian kebijakan sehingga investor maupun operator memiliki dasar untuk berinvestasi dalam pengembangan transportasi publik berbasis listrik.
Langkah-langkah yang mulai ditempuh Pemerintah Kota Pekanbaru menunjukkan bahwa proses elektrifikasi transportasi publik telah memasuki tahap awal.
Namun, perjalanan menuju sistem transportasi rendah emisi masih memerlukan waktu, investasi, serta konsistensi kebijakan agar target yang dicanangkan pemerintah dapat diwujudkan.
Kajian ITDP memperkirakan kebutuhan armada Trans Metro Pekanbaru ke depan mencapai ratusan unit dengan dukungan infrastruktur pengisian daya dan reformasi tata kelola yang menyeluruh.






Komentar (0)