Peternakan itik tidak hanya membutuhkan peningkatan produksi agar mampu meningkatkan pendapatan masyarakat. Efisiensi biaya pakan dan inovasi dalam pengolahan hasil ternak juga menjadi faktor penting untuk menciptakan nilai tambah.
Berangkat dari pendekatan tersebut, Tim Pengabdian Program Studi Peternakan Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman) menggelar dua pelatihan terpadu bagi masyarakat Desa Bakka-Bakka, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar, pada Rabu (30/6/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) yang didanai melalui Program Bantuan Inovasi Masyarakat (BIMA) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dengan nomor kontrak 212/C3/DT.05.00/PM/2; 488/LL9/PPIPPPM/2026; 109/UNASMANREKTOR/IX/V/2026.
Dalam program tersebut, sebanyak 15 anggota Kelompok Tani Siamasei mengikuti pelatihan pembuatan pelet berbahan Azolla pinnata sebagai pakan alternatif ternak itik. Sementara itu, 10 anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Sry Lestari memperoleh pelatihan pengolahan telur asin aneka rasa sebagai upaya meningkatkan nilai jual hasil peternakan.
Ketua Tim Pengabdian, Dr. Andi Tenri, mengatakan kedua pelatihan tersebut dirancang sebagai satu rangkaian pengembangan usaha peternakan itik berbasis potensi lokal. Menurutnya, peningkatan kesejahteraan peternak tidak cukup hanya melalui efisiensi biaya produksi, tetapi juga harus diiringi dengan peningkatan nilai tambah produk yang dihasilkan.
"Kami membangun rantai usaha peternakan secara utuh. Mulai dari penyediaan pakan yang lebih murah melalui pemanfaatan azolla hingga pengolahan telur menjadi produk bernilai tambah. Dengan cara ini, masyarakat tidak hanya mampu menekan biaya produksi, tetapi juga memperoleh peluang pendapatan yang lebih besar," ujar Dr. Andi Tenri.
Pada pelatihan pembuatan pakan, peserta mempelajari seluruh tahapan produksi, mulai dari teknik budidaya azolla, pembuatan tepung azolla, formulasi ransum, pencampuran bahan, proses pencetakan menggunakan mesin pelet, hingga teknik pengeringan dan penyimpanan. Selama kegiatan berlangsung, peserta berhasil memproduksi 100 kilogram pelet berbahan Azolla pinnata yang selanjutnya dijadikan contoh produksi dan akan dimanfaatkan sebagai pakan alternatif bagi ternak itik.
Ketua Kelompok Tani Siamasei, Sudarmaji, menilai teknologi tersebut menjadi solusi atas tingginya harga pakan komersial yang selama ini menjadi beban terbesar dalam usaha peternakan.
"Biaya pakan menjadi pengeluaran terbesar dalam usaha peternakan itik. Dengan memanfaatkan azolla yang mudah dibudidayakan, kami berharap dapat memproduksi pakan sendiri sehingga biaya produksi dapat ditekan," katanya.
Selain memperkenalkan inovasi pada sektor pakan, Tim Pengabdian Unasman juga mendorong hilirisasi hasil peternakan melalui pelatihan pengolahan telur asin. Anggota KWT Sry Lestari diperkenalkan pada tiga varian rasa, yakni bawang, jahe, dan cabai, serta tiga metode pengolahan, yaitu telur asin rebus, telur asin panggang, dan telur asin asap.
Dalam sesi praktik, peserta berhasil memproduksi 120 butir telur asin yang terdiri atas 40 butir telur asin rebus, 40 butir telur asin panggang, dan 40 butir telur asin asap. Seluruh produk kemudian dikemas sebagai contoh produk olahan yang memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan telur itik segar.
Ketua KWT Sry Lestari, Hasna, mengatakan pelatihan tersebut membuka peluang baru bagi kelompok perempuan untuk mengembangkan usaha berbasis pangan lokal melalui produk olahan yang lebih inovatif.
"Selama ini telur itik lebih banyak dijual dalam bentuk segar. Melalui pelatihan ini kami belajar menghasilkan produk yang lebih menarik dengan berbagai pilihan rasa sehingga memiliki nilai jual yang lebih tinggi," ujarnya.
Tidak hanya berfokus pada proses produksi, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai teknik pengemasan, pelabelan, hingga strategi pemasaran agar produk yang dihasilkan mampu bersaing di pasar. Tim pengabdian menilai peningkatan kemampuan produksi harus berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas pemasaran agar usaha masyarakat dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Dr. Andi Tenri menjelaskan pendekatan yang diterapkan dalam kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada transfer teknologi, tetapi juga pembangunan kemandirian masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya lokal. Azolla dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan alternatif untuk menekan biaya produksi, sedangkan telur itik diolah menjadi produk bernilai tambah yang mampu memperluas peluang pasar.
Melalui Program Pemberdayaan Desa Binaan, Tim Pengabdian Unasman akan terus melakukan pendampingan kepada Kelompok Tani Siamasei dan KWT Sry Lestari. Pendampingan mencakup penyempurnaan formulasi pakan, peningkatan kualitas produk, pengemasan, hingga pemasaran agar masyarakat mampu menghasilkan produk unggulan yang berdaya saing.
Pendampingan tersebut diharapkan tidak hanya melahirkan produk unggulan dari Desa Bakka-Bakka, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan usaha peternakan yang lebih efisien dan bernilai tambah.
Program ini menjadi bagian dari komitmen Universitas Al Asyariah Mandar dalam mengimplementasikan Tridharma Perguruan Tinggi melalui inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Pengembangan pakan alternatif berbasis azolla dan diversifikasi produk telur asin diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat yang dapat direplikasi di desa-desa lain di Sulawesi Barat sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan sekaligus pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal.






Komentar (0)