Harga emas memangkas pelemahan mingguan setelah investor kembali memborong logam mulia ketika harganya sempat turun di bawah level psikologis USD 4.000 per ons. Di saat bersamaan, eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran membuat ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) tetap bertahan.
Mengutip Bloomberg, harga emas spot sempat naik hingga 1,2 persen dan kembali menembus level USD 4.000 per ons setelah sebelumnya bergerak fluktuatif. Meski demikian, secara mingguan logam mulia tersebut masih mencatat penurunan lebih dari 2 persen.
Ketegangan geopolitik terus membayangi pasar. AS dan Iran telah terlibat bentrokan selama enam hari berturut-turut, sementara harga minyak bergerak menuju kenaikan mingguan akibat terganggunya pasokan energi.
Di sisi lain, sentimen konsumen AS pada awal Juli meningkat ke level tertinggi dalam lima bulan seiring turunnya harga bensin. Konsumen memperkirakan inflasi dalam setahun ke depan sebesar 4,2 persen, lebih rendah dibandingkan proyeksi 4,6 persen pada Juni.
Konflik yang telah memasuki bulan kelima itu kembali mendorong kenaikan harga energi dan berbagai komoditas, mulai dari bahan bakar hingga bahan baku manufaktur dan pangan. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa The Fed pada akhirnya akan kembali memperketat kebijakan moneternya, meski data ekonomi AS masih menunjukkan perlambatan.
“Ada pembelian saat harga turun setelah menembus level USD 4.000 per ons,” kata Ryan McKay, Senior Commodity Strategist di TD Securities.
“Memang wajar jika angka inflasi sedikit melunak karena harga energi anjlok pada Juni. Namun, eskalasi terbaru akan menahan penurunan inflasi dan menjaga peluang kenaikan suku bunga The Fed tetap terbuka,” tambahnya.
Pasar swap saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada rapat The Fed bulan Juli hanya sekitar 12 persen. Namun, pelaku pasar masih memperhitungkan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga hingga akhir tahun.
Pandangan tersebut juga diperkuat oleh semakin banyaknya pejabat The Fed yang menyampaikan kekhawatiran terhadap inflasi yang masih tinggi dan membuka kemungkinan perlunya kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Dalam beberapa pekan terakhir, harga emas bergerak di kisaran sempit sekitar USD 4.000 per ons setelah anjlok 14 persen sepanjang kuartal II 2026, yang menjadi kinerja kuartalan terburuk sejak 2013. Pada Juni lalu, emas juga mencatat penurunan bulanan terdalam sejak krisis keuangan global 2008.
Sementara itu, data terbaru pemerintah AS menunjukkan hedge fund meningkatkan posisi beli (bullish) terhadap emas Comex ke level tertinggi dalam lebih dari lima bulan pada pekan yang berakhir 14 Juli.
Pada penutupan perdagangan Jumat (waktu New York), harga emas spot naik 0,8 persen menjadi USD 4.009,50 per ons. Harga perak menguat 0,7 persen menjadi USD 55,90 per ons, platinum melemah, palladium naik tipis, sedangkan Bloomberg Dollar Spot Index yang mengukur kekuatan dolar AS naik 0,06 persen.






Komentar (0)