VIVA – Pertumbuhan jumlah penduduk dunia diproyeksikan terus meningkat hingga mencapai sekitar 10 hingga 11 miliar jiwa pada 2050. Di saat yang sama, kebutuhan pangan global diperkirakan ikut melonjak, sementara ketersediaan lahan pertanian menghadapi berbagai tantangan.
Kondisi tersebut membuat peningkatan produktivitas sektor pertanian dan perkebunan menjadi salah satu isu yang semakin mendapat perhatian dalam upaya menjaga ketahanan pangan di masa depan.
Hal tersebut disampaikan Kepala Pusat South East Asia Food and Agriculture Science & Technology (SEAFAST) Center IPB University, Puspo Edi Giriwono. Ia mengatakan, kelapa sawit merupakan salah satu komoditas yang dapat berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan minyak nabati global.
Menurutnya, Indonesia memiliki kapasitas produksi yang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga memasok pasar internasional.
Puspo mengatakan, produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil/CPO Indonesia mencapai sekitar 53 juta ton per tahun. Menurutnya, jumlah tersebut mampu memenuhi kebutuhan minyak nabati di dalam negeri sekaligus menyuplai pasar global.
"Minyak sawit kita mampu memenuhi kebutuhan Indonesia secara 100 persen, bahkan sampai surplus dan bisa memenuhi kebutuhan minyak nabati global," ujarnya, sebagaimana dikutip dari keterangannya, Sabtu, 17 Juli 2026.
Ia memperkirakan kebutuhan minyak nabati dunia akan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk. Menurutnya, populasi global dapat mencapai sekitar 10 hingga 11 miliar jiwa pada 2050 dengan kebutuhan minyak nabati sekitar 250 juta ton per tahun.
Menurut Puspo, peningkatan produktivitas menjadi salah satu faktor penting untuk memenuhi kebutuhan tersebut, terutama di tengah keterbatasan lahan pertanian. Ia menilai produktivitas yang lebih tinggi dapat membantu memenuhi permintaan tanpa harus mendorong perluasan pembukaan lahan.
“Apa komoditas yang bisa sangat produktif dengan kondisi lahan semakin berkurang? Produktivitas kelapa sawit akan menjawab dan menyuplai kebutuhan populasi dunia yang mencapai 10-11 miliar tadi,” paparnya.
Selain produktivitas, Puspo juga menyoroti pentingnya pengembangan industri hilir berbasis kelapa sawit. Menurutnya, Indonesia memiliki peluang untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sawit melalui berbagai produk olahan pangan, sehingga tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan baku.






Komentar (0)