Wajah Ketiga Seorang Pemimpi(n)

harianfajar
15 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Ulla Mappatang

Sebuah tulisan atas nama Jamaluddin Jompa terbit di harian Kompas, Jumat, 3 Juli 2026, dan seketika mengundang perhatian publik. Setidaknya di kalangan alumni Universitas Hasanuddin (Unhas), melalui pelbagai grup WhatsApp dan obrolan sehari-hari, tulisan itu memantik beragam reaksi. Dari yang penasaran, curiga, hingga bertanya-tanya dengan nada setengah percaya.

Benarkah Prof JJ, sapaan akrab Jamaluddin Jompa, yang menulis itu? Mengapa pujiannya kepada Prabowo Subianto begitu mengalir, bahkan turut menyelipkan nama Andi Amran Sulaiman di dalamnya? Apakah ini pertanda seorang akademisi tengah bermetamorfosis menjadi politisi? Dan, seperti yang selalu dibisikkan setiap kali seorang Rektor Unhas akan menyelesaikan masa jabatannya, apakah kursi menteri sudah mulai dilirik oleh Prof JJ?
Pertanyaan semacam ini bukan hal baru. Prof Idrus dan Prof Dwia, dua Rektor Unhas sebelum Prof JJ, juga pernah diterpa spekulasi serupa. Ironisnya, yang benar-benar menjadi menteri justru alumni Unhas lain, Amran Sulaiman dan Syahrul Yasin Limpo misalnya, bukan salah satu dari mereka.

Tiga Wajah

Membaca tulisan berjudul “Tiga Wajah Kepemimpinan” itu, pembaca justru diingatkan pada tiga wajah Prof JJ sendiri. Tulisan tersebut memang ditujukan sebagai puja-puji terhadap kepemimpinan Prabowo, tetapi justru di situlah letak ironinya. Alih-alih menegaskan citra Prof JJ sebagai ilmuwan atau pemimpin akademik di Universitas, tulisan itu seolah menyingkap wajah ketiga yang selama ini “jangan-jangan” tersembunyi. Atau, mungkin baru-baru ini saja “menggoda” seorang Prof JJ.

Wajah Pertama, Sang Ilmuwan. Wajah pertama Prof JJ ini adalah wajah yang paling mapan dan paling sulit dibantah. Seorang pakar ekologi laut yang namanya harum di dunia akademik hingga level internasional. Reputasi ini dibangun bertahun-tahun, melalui riset dan pengakuan keilmuan yang tidak instan. Wajah inilah yang menjadi modal sosial dan simbolik, meminjam istilah Pierre Bourdieu, bagi langkah-langkah Prof JJ berikutnya. Tanpa modal ini, mustahil ia melenggang mulus ke wajah kedua.

Wajah Kedua, Sang Pemimpin Akademik, Pemimpin Universitas. Menjadi Rektor Unhas adalah puncak capaian struktural, setelah gelar Guru Besar diraih sebagai puncak capaian fungsional. Di bawah kepemimpinannya, Unhas digadang-gadang hendak “lepas landas” menuju kampus berkelas dunia. Meski, prestasi institusional ini punya sisi lain yang jarang diangkat. Di kalangan aktivis progresif Unhas, Prof JJ dikenal kurang akrab, bahkan cenderung berjarak dengan lembaga kemahasiswaan. Termasuk dengan aktivis – aktivisnya.
Ini bukan sekadar gosip kampus, melainkan pola yang bisa dibaca sebagai dikotomi lama antara “ilmuwan” dan “aktivis”. Jika Prof Idrus dan Prof Dwia dikenal berani berhadapan dan berdialog langsung dengan aktivis mahasiswa Unhas yang secara intelektual dikenal “garang”, Prof. JJ tampak memilih jalur berbeda. Ia mengandalkan struktur, iaitu Wakil Rektor dan bawahannya, ketimbang turun langsung berdialektika dengan generasi masa depan Kampus Merah.

Bisa jadi itu soal gaya kepemimpinan, bisa jadi juga soal rekam jejak. Prof JJ muda oleh para senior, lebih dikenal sebagai mahasiswa yang rajin kuliah dan berprestasi akademik di atas rata-rata. Ia bukan sebagai aktivis yang bergaul erat dengan gerakan mahasiswa. Catatan ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memahami dari mana pola relasi kekuasaannya terbentuk. Dari situ juga, kita bisa paham, “sidik jari” Prof. JJ di dunia kampus seperti apa. Beliau “akademisi murni” di bidang ekologi laut, atau Ilmu Kelautan secara umum.

Walau demikian, hadirnya tulisan “Tiga Wajah Kepemimpinan” di Kompas tersebut bisa menjadi bumerang bagi seorang Prof JJ. Ilmu linguistik forensik dapat mengidentifikasi “sidik jari” bahasa atau “sidik jari linguistik” seorang Prof Jamaluddin Jompa yang dikenal berlatar “mahasiswa rajin” (baca: mahasiswa “baik – baik” meminjam istilah senior – senior Unhas Tamalanrea) dan “akademisi murni” berprestasi. Kutipan pemikiran – pemikiran para pemikir “kritis” seperti Antonio Gramsci, Walter Benjamin, dan Pierre Bourdieu membuat tulisan itu menjadi “agak laen” (meminjam judul film komedi Indonesia yang lagi hits dalam waktu belakangan) dari segi “sidik jari linguistik” jika diasosiasikan dengan seorang Professor Jamaluddin Jompa. Apatahlagi, ketika tulisan itu ditujukan untuk memuji seorang Prabowo, semakin terkesan kontraproduktif dan tidak selari dengan arus wacana publik akhir – akhir ini. Analisis menggunakan “sidik jari linguistik” atau “sidik jari bahasa” itulah yang membuat wajah ketiga seorang Jamaluddin Jompa menjadi “agak laen” dari dua wajah yang dikenal mapan oleh publik sebelumnya.

Wajah Ketiga, wajah Sang “Politisi” atau wajah sang pemimpi? Di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya tulisan tersebut. Tulisan atas nama Jamaluddin Jompa di Kompas itu menyingkapkan wajah ketiga yang selama ini tersamar. Prof JJ berubah menjadi figur yang mulai bermain di ranah wacana kekuasaan. Pujian terhadap kepemimpinan Prabowo, dalam bingkai yang lebih sinis, dibaca sebagian orang bukan sebagai analisis kepemimpinan yang objektif, melainkan sebagai bentuk “tindakan bertujuan” dengan “memuji” (the art seduction). Bahkan, dalam taraf yang lebih parah, mohon maaf, ada yang sampai menilai itu adalah tindakan “menjilat” pada kekuasaan yang dibungkus rapi dengan bahasa akademik.

Meski, dari lensa “sidik jari bahasa” di atas, kemasan tulisan tersebut berpotensi tergelincir menjadi “tidak akademik – akademik amat”. Itu berlaku jika tolak ukurnya adalah Prof JJ sebagai seorang ilmuwan papan atas di bidang kelautan negeri ini, bahkan di dunia akademik internasional. Bagaimanapun, tak ada metafora kepemimpinan maritim yang lebih dekat dengan portofolio Prof JJ sebagai ilmuwan di bidang itu. Bahkan, mengutip Jenderal Jusuf yang merupakan seorang jebolan Angkatan Darat, malah semakin menambah “anakronisme” atau ketidaknyambungan dengan profil ilmu kelautan dan wawasan maritim yang Prof JJ dan Unhas senantiasa diasosiasikan.
Hendak ke mana?

Pertanyaannya kemudian, “memuji” atau, mohon maaf jika harus menggunakan kata “menjilat”, untuk apa?

Prof JJ tokh sudah terpilih kembali sebagai Rektor. Kursi menteri pada 2029 pun masih terlampau jauh untuk dipersiapkan lewat satu artikel opini. Maka spekulasi bermunculan dalam berbagai varian. Mungkin ini murni ekspresi pribadi tanpa agenda tersembunyi. Mungkin ini kerja tim humas (PR) di sekitar Prof JJ yang ingin mencari perhatian elite kekuasaan. Atau mungkin, dengan sedikit lebih percaya pada niat baik, ini semata bentuk partisipasi seorang akademisi dalam wacana publik yang sah-sah saja. Pandangan – pandangan itu mengisi percakapan para alumni Unhas baik secara daring maupun dalam percakapan langsung.

Namun, sulit juga membayangkan Prof JJ, seorang ilmuwan dan pemimpin institusi sebesar Unhas, begitu naif hingga “dikerjai” tanpa penyaringan, oleh timnya sendiri. Jika benar ada unsur kerja pencitraan di baliknya, maka pertanyaan yang lebih penting bukan lagi soal siapa yang menulis, melainkan soal apa yang dipertaruhkan ketika batas antara otoritas keilmuan dan afiliasi kekuasaan mulai kabur.

Wajah yang Berlapis

Tiga wajah ini sesungguhnya tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling menopang. Wajah ilmuwan memberi legitimasi pada wajah pemimpin akademik. Wajah pemimpin akademik membuka akses pada panggung yang lebih luas, tempat wajah ketiga. Entah disebut sebagai wajah politisi atau sekadar figur publik yang piawai mengelola relasi kekuasaan, mulai tampak ke permukaan. Wajah sang pemimpi lain lagi.

Yang perlu diwaspadai bukanlah kemunculan wajah ketiga itu sendiri, sebab setiap pemimpin institusi publik pada akhirnya akan bersinggungan dengan kekuasaan negara. Yang lebih layak dipertanyakan adalah bagaimana pergeseran wajah ini dikelola. Apakah tetap dengan jarak kritis seorang ilmuwan, atau justru larut dalam bahasa pujian yang mengaburkan independensi akademik yang selama ini menjadi modal utamanya, sekaligus “mengingkari” sidik jari linguistik sendiri. Kehilangan jejak “sidik jari linguistik” berpotensi menghilangkan karakter kedirian dan identitas seorang pemimpin.

Spekulasi tentu boleh terus bermunculan. Tetapi barangkali pertanyaan yang lebih produktif bukan “benarkah Prof JJ sudah semakin berubah?” Melainkan “wajah mana dari Prof JJ yang akan kita pilih untuk terus kita awasi?” Sebab, pada akhirnya, publik kampus (Unhas) dan publik yang lebih luas, punya hak untuk terus mempertanyakan, tanpa harus buru-buru menjatuhkan vonis, walaupun itu juga sah – sah saja selama itu demi kepentingan publik. Terlebih menyelamatkan wajah Unhas, kampus yang kini dipimpin Prof Jamaluddin Jompa ketika tulisan atas nama dirinya itu memuji sang presiden, dan “dibicarakan” orang. Sayangnya, sambil “berbisik – bisik”.

Pemimpin, Pimpinan, atau Sang Pemimpi?
Membaca dan menilai tulisan Tiga Wajah Kepemimpinan tersebut secara kritis, dengan kontekstualisasi dan analisis konjungtural kondisi semasa, boleh jadi memberi kita proyeksi akan masa depan Unhas dan Universitas lainnya di Kawasan Timur Indonesia.

Jangan – jangan dengan langkah seperti yang terkandung dalam tulisan tersebut, sosok sang “pemimpin Universitas”, kini hanya tinggal nama sebagai “pimpinan Universitas” saja? Tanpa legasi dan hanya tinggal legitimasi semata. Atau, jika pujian kepada Presiden itu bermaksud sebagai “titian tangga” menuju “naik kelas” pada jabatan di level nasional, jangan – jangan wajah ketiga sang pemimpin Universitas kini bermetamorfosis menjadi wajah “setengah politisi” – “setengah akademisi”. Dan kini berpotensi berubah menjadi sosok “sang pemimpi”. Bermimpi menjadi menteri, misalnya, seperti yang banyak dipercakapkan orang belakangan ini. Tentunya, sambil “berbisik – bisik”.

Bagaimanapun, posisi pejabat publik memang selalu layak dipertanyakan. “Apa guna – gunanya?”, kata orang Makassar.
Masihkah Pimpinan Universitas sekarang adalah seorang pemimpin akademik? atau sekedar pimpinan kampus semata? atau malah sudah bermetamorfosis menjadi “sang pemimpi”?

Semoga wajah ketiga itu bukan yang terakhir disebutkan di atas.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Bukti Sportivitas Sepak Bola, Pemain Inggris dan Prancis Berdoa Bersama usai Pertandingan
• 11 jam lalu
0
thumb
Proyeksi Rupiah Pekan Depan di Kisaran Rp17.850 - Rp17.950 per Dolar AS
• 19 jam lalu
0
thumb
Yusril: Korupsi Tak Akan Habis Meski Ada KPK, Masalahnya Ada di Sini
• 10 jam lalu
0
thumb
KA Jayabaya Tertemper Pejalan Kaki di Pakal Surabaya, Satu Orang Meninggal Dunia
• 18 jam lalu
0
thumb
Gerindra Tepis Hotman Paris di Kasus Febrie: Presiden Tak Pernah Intervensi Hukum
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.