Mencari Air Bersih sampai Kelengar di Kaki Gunung Batur, Cilegon

kompas.id
1 hari lalu
Cover Berita

Ibu Zoe menuruni jalan setapak yang tanahnya sudah mengering sembari menggendong galon kosong di Sumur Bendung, Lingkungan Gunung Batur, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon, Banten, Sabtu (18/7/2026).

Suara kresek-kresek terdengar dari sendal jepitnya yang bersentuhan dengan daun-daun pohon bambu kering yang berjatuhan. Jalan setapak makin curam dan licin menuju dasar lembah karena harus melalui batuan keras berlumut yang dilewati rembesan air.

Menyerok air

Air dari celukan

Menggendong

Warga lainnya sudah antre menunggu air mengucur dari rembesan batu ke galon bekas air mineral. Ada beberapa titik rembesan. Rembesan air dialirkan dengan potongan bambu dan daun antap atau hantap (Sterculia oblongata) menuju ke mulut galon. Dibutuhkan waktu 30 menit untuk mengisi penuh satu galon bekas kemasan air mineral yang berisi 15 liter.

Teknik tradisional lainnya mencari air bersih ialah menggunakan celukan (cekungan tanah yang digali di antara tanah dan batu). Air yang menetes yang terkumpul kemudian diserok menggunakan gayung. Dibutuhkan waktu yang sama sekitar 30 menit untuk mendapatkan satu galon berisi 15 liter.  

Ada 14 warga yang tengah mencari air bersih. Di sela-sela menunggu galon terisi penuh, mereka yang kebanyakan kaum perempuan tengah bercengkerama dengan aksen Jawa kulon. Sesekali mereka mengganti galon saat terisi penuh. Keakraban dan kebersamaan terpancar dari wajah mereka.

”Sudah tiga generasi kami mengangsu, dari remaja sudah diajak orangtua. Orangtua dulu juga diajak nenek, terus-terusan ini sudah berlangsung puluhan tahun. Air menetes semakin berkurang memasuki bulan delapan nanti,” kata Ibu Hafsah.  

”Dulunya nenek kami memakai lodong (batang bambu untuk menampung air), terus berganti lagi pakai jeriken, dan dalam lima tahun terakhir berganti lagi menggunakan galon bekas air mineral. Selain tidak terlalu berat dan keras, galon ukuran 15 liter ini juga tidak mudah pecah dan mudah dibawa menggunakan jarik gendong,” kata Ibu Hafsah.

Sistem sif atau disebut warga jadwal ngangsu (menimba air) sudah terpasang di Musala Al-Ma’ruf yang berada di pinggir jalan. Jadwal ngangsu berlaku secara bergilir mulai pukul 06.00 WIB hingga 18.00 WIB dan pukul 18.00 WIB hingga 06.00 WIB.

Tiap grup yang terdiri atas 15 orang (mewakili satu rumah) bergantian mendapatkan giliran tersebut. Dalam satu minggu mendapatkan jadwal satu kali pagi hari dan satu kali malam hari. Jadwal tersebut disepakati bersama dan ditandatangani Ketua RT 002 Hafifudin.

Seekor ular terjatuh dari ketinggian setelah memangsa kodok. Ibu-ibu yang tengah menunggu galon terisi penuh tampak tenang. Ular tersebut pergi dengan sendirinya melewati galon menuju celah-celah batu. Galon yang sudah penuh dibawa satu per satu ke atas menuju pinggir jalan. Ada yang terus digendong, ada juga yang dibawa ke rumah menggunakan sepeda motor.

”Tidak ada perubahan di sini. Ceritanya sama dari dulu, krisis air bersih kala kemarau tiba. Empat bulan sebelumnya bisa mendapatkan 20 galon per giliran. Kini rembesan terus berkurang. Bulan ini hanya delapan galon per giliran. Nanti bulan sembilan kelengar kita. Untuk cebok juga enggak bisa,” kata Pak Suheli yang disambut tertawa para tetangganya.

Krisis air bersih sudah berlangsung dalam empat bulan terakhir dalam tahun ini. Sudah puluhan tahun kampung tersebut krisis air bersih kala musim kemarau. Meski sudah ada bantuan dua galon air bersih per minggu dari pemerintah, warga tetap kekurangan air bersih.

Warga harus berjalan kaki sepanjang satu kilometer untuk mendapatkan air bersih yang didapat dari rembesan bebatuan. Warga berharap ada bantuan jaringan perpipaan untuk ketersediaan air bersih.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) telah meningkatkan level dari El Nino tahun ini dalam kategori kuat. Badan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa ini juga memperingatkan negara-negara untuk bersiap menghadapi dampaknya yang bisa lebih besar berupa meningkatnya gelombang panas, kekeringan, dan peristiwa cuaca ekstrem lainnya di banyak bagian dunia.

Laporan Bulanan WMO tentang Iklim Musiman Global yang dikeluarkan pada Sabtu (4/7/2026) menunjukkan perkembangan pesat menjadi peristiwa El Nino yang kuat selama Juli–September 2026. Prakiraan gabungan multimodel dari pusat-pusat penghasil global terkemuka menunjukkan pemanasan suhu laut yang konsisten dan signifikan di Pasifik khatulistiwa tengah dan timur, dengan anomali suhu permukaan laut rata-rata musiman diperkirakan melebihi 2 derajat celsius di wilayah pemantauan utama (Kompas.id, 5 Juli 2026).

Baca JugaRindu dari Sekolah Rakyat Semarang

 

 


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Jangan Buru-buru Izinkan Anak Bermedsos, Ini Pesan Menkomdigi kepada Orang Tua
• 21 jam lalu
0
thumb
Akses AC Masih Timpang di Tengah Gelombang Panas Global
• 2 jam lalu
0
thumb
Lewat Konten Free Fire, Mantan Guru Ngaji di Tasikmalaya Dibanjiri Pengikut
• 19 jam lalu
0
thumb
Seorang Tentara AS Tewas Terkena Ledakan saat Tangani Sisa Drone Iran di Irak
• 14 jam lalu
0
thumb
Ada Demo di Sejumlah Titik Jakpus Hari Ini, 706 Personel Disiagakan
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.