Cerita Ibunda yang Kena Dampak Pemuda Madiun Kabur Saat Tur di Korsel

detik.com
1 hari lalu
Cover Berita
Jakarta -

Ulah Femas Yani Arianto (22), warga Madiun yang kabur dari rombongan saat tur di Korea Selatan (Korsel), berbuntut panjang. Pihak keluarga mengaku ditagih pihak travel imbas kerugian atas ulah Femas tersebut.

Dilansir detikJatim, Minggu (19/7/2026), ibunda Femas berinisial MT (56) tinggal di Madiun, Jawa Timur (Jatim). Ia mengaku kaget mendengar kabar anaknya sudah sampai di Korea Selatan dan dilaporkan kabur.

Baca juga: Sorotan Kemlu Atas Aksi Pemuda Madiun Kabur Saat Tur di Korsel

Menurut MT, Femas tidak pernah izin ke dirinya terkait ikut tur bersama pihak travel hingga dikabarkan kabur. Dia tahu kabar itu dari pihak travel pada 15 Juli 2026 melalui pesan singkat.

Akibat ulah anaknya itu, MT juga mengaku ditagih seseorang mengaku pegawai biro tur membayar kerugian puluhan juta. Pegawai itu bahkan sempat datang di rumahnya di Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun.

"Saya uang dari mana dimintai uang banyak. Bisa buat makan sehari-hari saja alhamdulillah," ujar MT.

Menurut MT, nominal uang yang diminta pihak travel senilai Rp 50 juta. Ia mengaku kaget kenapa ganti rugi yang besar dibebankan kepada dirinya. "Saya juga kurang tahu pasti uang sebanyak itu saya dari mana," papar MT.

Baca juga: Pria Asal Madiun Diduga Kabur Saat Ikut Tur di Korsel, Begini Kronologinya

Selain itu, MT juga mengaku pernah didatangi seseorang dari pegawai Imigrasi Madiun. Namun kedatangan petugas imigrasi membelanya dan menyarankan agar tak menuruti permintaan pihak travel yang minta ganti rugi Rp 50 juta.

"Dari imigrasi juga ke sini ngecek dan sepertinya juga keberatan jika saya ada beban tagihan dari biro travel. Karena saya tidak bersalah," ungkap MT.

MT lalu menuturkan bahwa selama ini suaminya sudah meninggal sejak 2018. Sedangkan sehari-hari ia hanya mengandalkan kerja serabutan di pabrik porang. Pekerjaan itu yang kemudian menjadi penghasilan utamanya.

"Saya kerja serabutan di pabrik porang musiman saat ini juga sudah selesai tidak beroperasi pabrik. Kerja bersih - bersih rumah orang sehari Rp 60 ribu. Dulu masih ada suami buka toko kios pupuk sekarang sepi dan tutup," tandas M.

Marketing Manager Berani Backpacker, Wiky, menjelaskan visa Femas telah berstatus overstay sejak 12 Juli 2026. Sebelum status overstay itu terjadi, pihak travel mengaku telah berupaya melakukan pendekatan secara persuasif ke keluarga agar Femas bersedia kembali ke Indonesia.

Baca berita selengkapnya di sini.

Lihat juga Video: Eks Pelatih Timnas Korsel Kabur ke Amerika, Usai Gagal di Pildun 2026




(fca/knv)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Marinir TNI AL latih prajurit menembak menggunakan tank
• 13 jam lalu
0
thumb
Permintaan Maaf Hotman Paris ke Wartawan, Akui Emosi usai Diberondong Pertanyaan
• 6 jam lalu
0
thumb
Rekor Lamine Yamal: Jadi Remaja Pertama Kawinkan Gelar Piala Dunia dan Euro
• 14 jam lalu
0
thumb
BRI Gelar Expo KKB Serentak di 131 Kantor Agustus 2026
• 17 jam lalu
0
thumb
YLBHI Sebut Label LGBT sebagai Ancaman Nonmiliter Berpotensi Picu Persekusi, Minta Presiden Bertindak
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.