Jakarta, tvOnenews.com - Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi tantangan besar bagi sistem kesehatan di Indonesia. Selain menyebabkan tingginya angka kesakitan, penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti ini juga menimbulkan dampak ekonomi yang tidak sedikit bagi negara maupun masyarakat.
Studi terbaru dari Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkirakan total beban ekonomi akibat dengue di Indonesia sepanjang 2024 mencapai sekitar USD550,9 juta atau hampir Rp9 triliun. Pada periode yang sama, jumlah rawat inap akibat penyakit tersebut diperkirakan menembus lebih dari 2 juta kasus.
Peneliti dari FK-KMK UGM, Dr. Diah Ayu Puspandari, M.Kes, MBA, Apt., mengatakan kepemilikan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) belum sepenuhnya menghilangkan beban finansial yang harus ditanggung pasien.
“Studi terbaru kami pada 2024 menunjukkan bahwa kepemilikan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) belum sepenuhnya membebaskan pasien dari beban biaya. Pasien JKN masih harus mengeluarkan biaya mandiri (out-of-pocket) rata-rata Rp1,1–1,3 juta saat menghadapi sebuah periode sakit akibat dengue untuk kebutuhan nonmedis seperti transportasi dan akomodasi pendamping, di luar hilangnya produktivitas (termasuk kehilangan pendapatan). Sementara bagi pasien yang tidak memiliki asuransi, biayanya melonjak drastis hingga Rp4,3–5,6 juta karena seluruh biaya perawatan medis harus ditanggung sendiri," ujar Dr Diah dalam keterangannya, dikutip Sabtu (18/7/2026).
Menurut hasil penelitian tersebut, beban ekonomi paling berat dirasakan kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Selain biaya pengobatan, keluarga juga harus menghadapi pengeluaran tambahan untuk transportasi, akomodasi pendamping pasien, hingga kehilangan pendapatan akibat tidak dapat bekerja selama masa perawatan.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K), menilai dampak dengue tidak hanya terlihat dari biaya rumah sakit, tetapi juga hilangnya produktivitas keluarga.
“Pada saat salah satu anak terserang infeksi dengue dan perlu perawatan di rumah sakit, maka orang tua harus mendampingi sehingga kehilangan waktu untuk bekerja dan mengurangi produktivitas. Demikian pula jika orang tua yang sakit, keluarga harus merawat dan dapat mengganggu suasana dan ekonomi keluarga. Maka dapat dikatakan bahwa selain biaya perawatan dan pengobatan yang harus dikeluarkan, dampak lain yang tidak tampak adalah terganggunya produktivitas; apalagi untuk pemulihan dari infeksi dengue perlu waktu yang cukup lama sekitar 1-2 minggu,” urai Prof. Sri.





Komentar (0)