New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street mengakhiri reli selama dua pekan berturut-turut pada perdagangan Jumat waktu setempa. Pelemahan dipicu oleh aksi jual di sektor teknologi, terutama saham-saham yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), sehingga mendorong saham chip masuk ke wilayah bear market.
Sentimen pasar juga tertekan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong kenaikan harga minyak. Kondisi tersebut kembali memunculkan kekhawatiran investor terhadap potensi inflasi.
Sektor teknologi dalam indeks S&P 500 sempat merosot lebih dari tiga persen setelah pembukaan perdagangan. Tekanan muncul di tengah kekhawatiran terhadap meningkatnya persaingan AI dari Tiongkok setelah peluncuran model AI terbaru, ditambah hasil pendapatan perusahaan streaming Netflix yang mengecewakan.
Pelemahan sektor teknologi menyeret indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi hingga turun 2,4 persen pada awal sesi. Meski sebagian kerugian berhasil dipangkas menjelang penutupan, sektor teknologi tetap menjadi sektor dengan kinerja terburuk sepanjang pekan.
Mengutip Investing.com, Sabtu, 18 Juli 2026, pada penutupan perdagangan, Nasdaq Composite turun 1,4 persen ke level 25.520,24. Sementara itu, S&P 500 melemah 1,1 persen menjadi 7.454,74, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 0,8 persen ke 52.146,39.
Secara mingguan, Nasdaq terkoreksi 2,9 persen, S&P 500 turun 1,6 persen, dan Dow Jones melemah 0,9 persen.
Baca Juga :
Kekhawatiran AI Picu Koreksi Wall Street, Nasdaq Anjlok 1,47%(Ilustrasi Wall Street. Foto: iStock)
Data inflasi belum mampu angkat sentimen
Di awal perdagangan, sentimen sempat membaik setelah rilis data indeks kepercayaan konsumen dan ekspektasi inflasi yang lebih positif. Selain itu, data ekonomi yang dirilis sebelumnya menunjukkan laju inflasi AS mulai melambat, tercermin dari moderasi Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) pada Juni.
Namun, memburuknya hubungan antara Washington dan Teheran serta lonjakan harga minyak kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi.
Sementara itu, tekanan pada saham teknologi mulai mereda setelah laporan The New York Times menyebut Meta Platforms tengah melakukan pembicaraan awal dengan Anthropic terkait penyewaan pusat data AI miliknya.
Nilai potensi kesepakatan tersebut diperkirakan mencapai USD10 miliar. Kabar itu membantu memangkas tekanan pada saham Meta, meski pada akhirnya emiten induk Facebook tersebut tetap ditutup turun 2,8 persen.
Di sisi lain, saham-saham semikonduktor kembali menjadi sorotan. Setelah mencatat reli tajam sepanjang awal tahun berkat euforia AI, sektor ini kini menghadapi aksi ambil untung yang berlangsung sejak bulan lalu.
Tekanan dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap tingginya valuasi saham AI serta kenaikan harga komponen pendukung, termasuk chip memori yang digunakan untuk pemrosesan AI.
Koreksi juga terjadi di pasar Korea Selatan. Kapitalisasi pasar produsen chip memori Samsung Electronics dan SK Hynix sempat melampaui USD1 triliun seiring melonjaknya permintaan AI. Namun, indeks acuan Kospi kini telah turun 25,2 persen dari rekor tertingginya pada Juni, sehingga masuk ke wilayah bear market.





Komentar (0)