Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendeklasifikasi sejumlah dokumen intelijen yang menurutnya menunjukkan adanya campur tangan Tiongkok dalam Pemilu Amerika Serikat 2020.
Namun, klaim tersebut bertentangan dengan penilaian komunitas intelijen AS yang sebelumnya menyatakan tidak menemukan bukti Beijing mengubah hasil pemungutan suara.
Dalam pidato berdurasi sekitar 25 menit pada Kamis, 16 Juli 2026, Trump mengatakan dokumen yang dibuka ke publik itu mengungkap "kerentanan yang mengejutkan" pada infrastruktur pemilu Amerika Serikat.
Mengutip Channel News Asia, ia juga mengklaim Tiongkok memperoleh sekitar 220 juta data pemilih AS, termasuk nama, alamat, dan informasi pendaftaran pemilih.
Trump menuduh sebagian pejabat komunitas intelijen sengaja menutupi informasi mengenai aktivitas Tiongkok tersebut.
Namun, penilaian komunitas intelijen AS yang dirilis pada 2021 menyimpulkan tidak ada indikasi aktor asing berupaya mengubah atau berhasil mengubah aspek teknis apa pun dalam Pemilu Presiden 2020, termasuk pendaftaran pemilih, surat suara, penghitungan, maupun hasil pemilu.
Laporan tersebut memang menyebut Tiongkok telah mengumpulkan informasi mengenai pemilih, opini publik, partai politik, kandidat, dan pejabat pemerintah AS sejak setidaknya 2008. Namun, upaya itu dinilai bertujuan memprediksi hasil pemilu, bukan memanipulasi proses pemungutan suara.
Sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut juga mengatakan data pemilih yang diperoleh Tiongkok bukan merupakan informasi rahasia karena dapat dibeli secara legal oleh konsultan politik dan tidak dapat digunakan untuk mengubah hasil pemilu.
Menjelang pidato Trump, Reuters melaporkan sejumlah pejabat Gedung Putih khawatir pengungkapan informasi tersebut dapat menyesatkan publik.
Sementara itu, Kedutaan Besar Tiongkok di Washington membantah tuduhan tersebut. Juru bicara Kedutaan Besar Tiongkok, Liu Chang, menegaskan bahwa Tiongkok tidak pernah dan tidak akan mencampuri pemilihan presiden Amerika Serikat.
"Tiongkok tidak pernah dan tidak akan mencampuri pemilihan presiden Amerika Serikat," pungkas Liu.





Komentar (0)