Pantau - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan proyek strategis nasional (PSN) LNG Abadi Blok Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku akan memprioritaskan tenaga kerja lokal, termasuk lulusan Politeknik Energi dan Mineral Akamigas milik Kementerian ESDM di Cepu.
Penegasan tersebut disampaikan Bahlil usai peletakan batu pertama pembangunan PSN LNG Abadi Blok Masela di Desa Lermatang, Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Lulusan Akamigas Diprioritaskan Bekerja di Blok MaselaBahlil mengatakan pemerintah telah mengirim sebagian putra-putri daerah untuk menempuh pendidikan di Politeknik Energi dan Mineral Akamigas sebagai persiapan kebutuhan tenaga kerja proyek.
"Sebagian anak daerah sudah dikirim untuk sekolah di Cepu, di Akademi Migas milik Kementerian ESDM (Politeknik Energi dan Mineral Akamigas). Mereka semuanya akan kita serap untuk bekerja di proyek Blok Masela sebelum merekrut tenaga kerja dari luar daerah," kata Bahlil.
Pada masa konstruksi, proyek Blok Masela diperkirakan menyerap sekitar 12 ribu tenaga kerja langsung.
Sementara itu, pada tahap operasi proyek diperkirakan membutuhkan sekitar 800 hingga 1.000 tenaga kerja.
Bahlil menegaskan kebutuhan tenaga kerja profesional akan diprioritaskan berasal dari Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan Kabupaten Maluku Barat Daya.
Jika kebutuhan tenaga kerja profesional belum terpenuhi dari kedua daerah tersebut, perekrutan akan dilakukan dari daerah lain maupun luar negeri.
"Lapangan pekerjaan yang profesional kita ambil dulu dari tier satu dan tier dua. Jangan sampai anak-anak daerah di sini menganggap investasi masuk, tapi tidak memprioritaskan mereka," ujar Bahlil.
Investasi Capai Rp390 TriliunBahlil mengatakan proyek Blok Masela yang telah direncanakan sejak 1998 akhirnya memasuki tahap pembangunan setelah melalui enam periode pemerintahan dan berbagai dinamika, termasuk pembahasan konsep pembangunan fasilitas produksi di laut maupun di darat.
Menurut Bahlil, pemerintah mempercepat kepastian seluruh perizinan yang telah memperoleh Plan of Development (POD) sehingga pembangunan proyek dapat dimulai.
"Atas arahan dan perintah Presiden Prabowo Subianto, pemerintah bergerak cepat memberikan kepastian terhadap seluruh perizinan yang telah memperoleh Plan of Development (POD), hingga akhirnya hari ini kita dapat memulai pembangunan," katanya.
Selain memprioritaskan tenaga kerja lokal, pemerintah juga meminta operator proyek melibatkan pengusaha lokal dalam pekerjaan yang dapat dikerjakan oleh pelaku usaha daerah.
"Saya meminta seluruh pekerjaan yang memungkinkan dikerjakan oleh pengusaha lokal agar diprioritaskan kepada mereka. Investasi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di daerah," ujarnya.
Proyek LNG Abadi Blok Masela membutuhkan investasi sekitar 20,95 miliar dolar Amerika Serikat atau setara hampir Rp390 triliun.
Setelah beroperasi, proyek tersebut ditargetkan memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, sekitar 120 MMSCFD gas, serta 35 ribu barel kondensat per hari untuk meningkatkan lifting migas nasional.
Pemerintah menetapkan sedikitnya 60 persen produksi gas dialokasikan untuk kebutuhan dalam negeri, sedangkan maksimal 40 persen dapat diekspor.
"Gas ini akan dimanfaatkan untuk mendukung hilirisasi industri, antara lain kebutuhan PT Pupuk, PLN, PGN, serta industri lainnya agar memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional," ujar Bahlil.
Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa menyatakan Pemerintah Provinsi Maluku mendukung penuh pembangunan PSN LNG Abadi Blok Masela.
Menurut Hendrik, proyek tersebut akan menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus membuka peluang kerja yang luas bagi masyarakat Maluku.
"Blok Masela harus menjadi momentum peningkatan kualitas sumber daya manusia Maluku sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat di Kepulauan Tanimbar dan wilayah sekitarnya," kata Hendrik.





Komentar (0)