“Saya sudah lama ingin datang ke Wakatobi. Selama ini kita mengenalnya sebagai salah satu kawasan laut terindah di dunia. Namun, yang lebih penting adalah memastikan anak-anak di sini memperoleh layanan pendidikan yang bermutu,” ujar Fajar dalam keterangan tertulis dikutip Jumat, 17 Juli 2026.
Menurut dia, semakin baik konektivitas menuju Wakatobi tidak hanya mendorong sektor pariwisata, tetapi juga memperluas akses pendidikan, memperkuat kolaborasi, dan membuka kesempatan yang lebih besar bagi generasi muda Wakatobi untuk melanjutkan pendidikan.
Kunjungan diawali di SMP Negeri 1 Wangi-Wangi. Fajar berdialog dengan peserta MPLS Ramah mengenai cita-cita, pentingnya hidup sehat, serta Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Suasana berlangsung hangat ketika Wamen bernyanyi bersama para siswa dan mengajak mereka membangun semangat belajar, hidup rukun, serta saling menghargai sejak hari pertama sekolah.
Fajar juga meninjau hasil program revitalisasi SMP Negeri 1 Wangi-Wangi yang memperoleh bantuan pemerintah sebesar Rp1,024 miliar pada Tahun Anggaran 2025. Dia mengatakan peningkatan kualitas sarana pendidikan harus berjalan seiring dengan peningkatan mutu pembelajaran agar peserta didik dapat belajar dengan aman, nyaman, dan menyenangkan.
Selanjutnya, Wamen mengunjungi SD Maritim Mola dan SMP Maritim Mola di Desa Mola Utara, Kecamatan Wangi-Wangi, yang melayani pendidikan bagi anak-anak Suku Bajo. Fajar meninjau proses pembelajaran, pemanfaatan Papan Interaktif Digital (PID), serta kondisi sarana dan prasarana sekolah.
Baca Juga :
Andalkan APBN Aja Gak Cukup! Kemendikdasmen Ajak Publik Bantu Revitalisasi 200 Ribu SekolahRespons cepat itu disambut antusias oleh warga sekolah sebagai bukti perhatian pemerintah hadir hingga wilayah kepulauan. Fajar mengatakan pendidikan di wilayah kepulauan memerlukan pendekatan inklusif dan adaptif, termasuk bagi masyarakat Suku Bajo yang memiliki karakter budaya maritim yang kuat.
“Anak-anak Suku Bajo memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan bermutu. Pendidikan harus hadir secara inklusif dan adaptif, menghargai budaya lokal sekaligus membekali mereka dengan pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi masa depan. Negara tidak boleh membiarkan ada satu pun anak Indonesia tertinggal karena kondisi geografisnya,” tegas Fajar.
Rangkaian kunjungan dilanjutkan ke SMA Muhammadiyah 1 Wakatobi, sekolah yang juga menerima peserta didik dari komunitas Suku Bajo. Fajar meninjau langsung hasil program revitalisasi sekolah senilai Rp1,5 miliar yang telah diresmikan sebelumnya oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti.
Fajar berkeliling melihat bangunan dan ruang-ruang belajar yang telah direvitalisasi. Dia menegaskan pembangunan sarana pendidikan harus diikuti dengan peningkatan kualitas pembelajaran agar manfaatnya benar-benar dirasakan peserta didik.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran Bapak Wamen. Ini menjadi bukti bahwa negara benar-benar menyapa masyarakat di wilayah kepulauan. Anak-anak semakin bersemangat mengikuti MPLS karena merasa diperhatikan langsung oleh pemerintah. Kami berharap perhatian terhadap pendidikan anak-anak Suku Bajo terus berlanjut agar mereka memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik,” ujar Nurdin, tokoh masyarakat Suku Bajo sekaligus pengurus Sekolah Maritim Mola.
Fajar menegaskan keindahan alam Wakatobi harus berjalan seiring dengan pembangunan sumber daya manusia. “Wakatobi telah dikenal dunia karena keindahan lautnya. Kini tugas kita memastikan anak-anak Wakatobi juga dikenal karena kecerdasan, karakter, dan prestasinya. Itulah makna sesungguhnya dari Pendidikan Bermutu untuk Semua,” ujar Fajar.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)






Komentar (0)