Kenapa Mobil Justru Lebih Berisiko Panas Saat Macet? Ini Penjelasannya

viva.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA - Mobil yang lebih sering digunakan di tengah kemacetan ternyata menghadapi tantangan berbeda dibanding kendaraan yang melaju di jalan bebas hambatan. Dalam kondisi stop and go, sistem pendingin mesin bekerja lebih keras karena radiator tidak mendapat aliran udara yang cukup untuk membantu membuang panas.

Kondisi tersebut membuat peran radiator coolant menjadi semakin penting. Cairan pendingin tidak hanya bertugas menyerap panas dari mesin, tetapi juga menjaga suhu kerja tetap stabil ketika kendaraan lebih banyak berhenti dibanding melaju.

Baca Juga :
Beli Mobil Bekas Jangan Lihat Harga Saja, Ini 5 Biaya yang Sering Bikin Boncos
MGS5 EV Turun Harga

President Director PT Autochem Industry Henry Sada mengatakan, kondisi lalu lintas perkotaan dengan tingkat kemacetan tinggi menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan radiator coolant.

"Ketika kendaraan bergerak lambat, proses pelepasan panas lebih banyak bergantung pada kemampuan coolant dibanding aliran udara yang melewati radiator," kata dia dalam keterangan resmi, Jumat 17 Juli 2026.

Berbeda dengan mobil harian yang menghadapi kemacetan, mobil balap justru dituntut menjaga suhu mesin tetap stabil ketika bekerja terus-menerus pada putaran tinggi. Jika cairan pendingin tidak mampu membuang panas secara optimal, suhu mesin bisa melewati batas kerja ideal dan berisiko mengalami overheat sebelum balapan selesai.

Atas dasar itu, kemampuan transfer panas menjadi salah satu aspek yang dikembangkan pada radiator coolant. Selain membantu menjaga temperatur mesin, kandungan glycol juga berfungsi meningkatkan titik didih cairan sehingga tidak mudah menguap, sekaligus menjaga kestabilan suhu kerja mesin pada berbagai kondisi penggunaan. 

Fungsi coolant juga tidak berhenti pada proses pendinginan. Cairan ini berperan melindungi komponen sistem pendingin melalui aditif antikarat yang membantu mencegah korosi pada saluran radiator. Perlindungan tersebut dinilai penting untuk menghindari kebocoran maupun penyumbatan yang dapat mengurangi kinerja sistem pendingin.

Perkembangan teknologi kendaraan turut memengaruhi pengembangan cairan radiator. PT Autochem Industry menyebut teknologi Organic Acid Technology (OAT) kini digunakan untuk memberikan perlindungan lebih lama terhadap korosi tanpa meninggalkan endapan pada saluran pendingin.

Teknologi tersebut juga diklaim dapat memenuhi kebutuhan kendaraan bermesin bensin, diesel, hybrid hingga mobil listrik yang tetap membutuhkan pengaturan suhu pada baterai, inverter, dan motor listrik. 

Baca Juga :
BYD Jadi Sorotan Usai Motor Mobil Listriknya Copot di Tengah Jalan
Mercedes-Benz C-Class Tak Lagi Butuh Bensin
Bukan Ferrari atau McLaren, Mobil Tercepat di Goodwood 2026 Justru Ford

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
KPK Tolak Laporan Gratifikasi Menhut Raja Juli karena Masuk Ranah Penyidikan
• 4 jam lalu
0
thumb
KPK Geledah Safe House Bupati Sukoharjo di Solo, Bawa Dua Koper Hitam usai Penggeledahan
• 21 jam lalu
0
thumb
Rekomendasi Mobil Bekas di Bawah Rp50 Juta, Masih Layak Dipakai Harian
• 5 jam lalu
0
thumb
Prabowo Targetkan Blok Masela Jadi Motor Penggerak Ekonomi Indonesia Timur
• 19 jam lalu
0
thumb
Dua Eks Asisten Timnas Indonesia Yoo Jae-hoon dan Kim Jong-jin Gabung Persija, Shin Tae-yong Ungkap Alasannya
• 18 detik lalu
0
Berhasil disimpan.