Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan wayang bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan yang sarat falsafah hidup. Pandangan itu disampaikannya dalam Artistic Collaboration Concert Melbourne Symphony Orchestra (MSO) dan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis (16/7), yang menandai satu dekade kerja sama budaya antara Yogyakarta dan Victoria, Australia.
“Bagi orang Jawa, wayang bukan sekadar tontonan, ia adalah tuntunan,” kata Sultan.
Menurut Sultan, wayang bukan hanya warisan budaya yang dipentaskan di atas panggung, tetapi juga menyimpan falsafah hidup yang diwariskan lintas generasi. Nilai-nilai itulah yang, menurutnya, menjadikan wayang relevan dipertemukan dengan musik orkestra dalam sebuah ruang kolaborasi lintas budaya.
“Di balik kelir dan sabetan wayang tersimpan falsafah hidup yang utuh tentang baik dan buruk yang senantiasa bergumul dalam diri manusia serta kebijaksanaan yang dituturkan turun-temurun oleh sang dalang,” ujarnya.
Sultan juga menyoroti bahwa wayang telah memperoleh pengakuan dunia sebagai warisan budaya takbenda sehingga memiliki nilai yang mampu melampaui batas geografis maupun budaya.
“Sejak 2003 dunia melalui UNESCO telah mengakuinya sebagai mahakarya warisan lisan dan budaya takbenda kemanusiaan,” kata Sultan.
Menutup sambutannya, Sultan berharap kolaborasi budaya yang telah terjalin selama satu dekade itu terus menjadi bagian dari sejarah hubungan Yogyakarta dan Victoria.
“Karena sejarah terindah tidak semata dipatri dengan tinta, melainkan juga dianyam dalam nada,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan pemilihan wayang dalam konser tersebut berangkat dari tema A Decade: A Deeper Understanding yang menjadi benang merah peringatan sepuluh tahun kolaborasi budaya Yogyakarta dan Victoria. Tokoh Yudistira atau Puntadewa dipilih karena dinilai merepresentasikan nilai-nilai yang ingin dihadirkan dalam perjalanan kolaborasi tersebut.
“Wayang ini kita ambil sesuai tema 10 tahun, A Deeper Understanding. Pilihan tokohnya Yudistira atau Puntadewa benar-benar kami maknai sebagai bagian dari proses bagaimana cerita Ramayana, mulai dari awal hingga akhir, menjadi refleksi perjalanan tersebut,” katanya.
Menurut Dian, pemilihan wayang juga didasarkan pada posisinya sebagai warisan budaya Indonesia yang telah diakui dunia sekaligus menjadi sumber inspirasi dan tuntunan bagi masyarakat.
“Sebagaimana wayang telah diakui dunia melalui UNESCO sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity sejak tahun 2003 dan merupakan sumber inspirasi serta tuntunan masyarakat kita,” ujarnya.
Dian mengatakan pertemuan wayang dan musik orkestra diharapkan tidak hanya menjadi kolaborasi artistik, tetapi juga memperlihatkan bagaimana dua warisan budaya dari latar yang berbeda dapat saling melengkapi.
“Kami percaya, perjumpaan warisan-warisan budaya ini mampu berpadu dan menghasilkan keindahan yang berkesan,” katanya.






Komentar (0)