Bisnis.com, JAKARTA — Anak usaha PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA), PT Suryacipta Swadaya tetap optimistis mampu mencapai target penjualan lahan sepanjang 2026 meskipun aktivitas manufaktur sedang mengalami kontraksi.
Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal Realisasi investasi di Indonesia pada semester I/2026 mencapai Rp1.010,6 triliun atau 49,5% dari target investasi nasional sebesar Rp2.041,3 triliun.
Di sisi lain, kinerja manufaktur Indonesia yang tercermin lewat Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia turun menjadi 46,9 pada Juni 2026 dari posisi 50,0 pada Mei. S&P Global menyebut penurunan tersebut menandai perubahan kondisi operasional yang hampir stagnan di sektor manufaktur.
Chief Commercial Officer PT Suryacipta Swadaya, Abednego Purnomo mengatakan perseroan menilai pipeline calon investor masih kuat, didorong tingginya minat dari sektor kendaraan listrik (electric vehicle/EV), pusat data, hingga pergudangan.
Dia memastikan perseroan tidak merevisi target penjualan lahan tahun ini, meskipun indeks manufaktur Indonesia tengah berada dalam fase kontraksi.
"Tidak ada revisi target karena kami yakin inquiry dan pipeline ke Suryacipta sangat sehat, sehingga kami optimistis dapat mencapai target yang telah ditetapkan korporasi," ujarnya kepada Bisnis, Jumat (18/7/2026).
Baca Juga
- Target Marketing Sales 2026, SSIA Andalkan 135 Ha Lahan Industri
- SSIA Tebar Dividen Rp23,5 Miliar, Andalkan Proyek Subang Smartpolitan
- Perubahan Kepemilikan Saham BRMS, BEEF, DILD, FILM, Hingga SSIA per 26 Mei 2026
Dia melanjutkan, pelemahan nilai tukar rupiah justru dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan daya tarik investasi asing ke Indonesia.
Dengan mata uang yang lebih lemah, biaya investasi awal seperti pembelian lahan dan pembangunan fasilitas menjadi lebih efisien bagi investor yang membawa modal dalam mata uang asing, khususnya industri manufaktur berorientasi ekspor.
Namun, ia mengingatkan bahwa pelemahan rupiah juga menjadi tantangan bagi industri yang masih bergantung pada bahan baku impor. Karena itu, keputusan investasi tidak hanya ditentukan oleh kurs, tetapi juga stabilitas ekonomi, kepastian kebijakan, dan prospek pertumbuhan jangka panjang.
"Selama didukung fundamental ekonomi nasional yang kuat dan kebijakan pro investasi yang konsisten, pelemahan rupiah dapat menjadi daya tarik investasi yang nyata," imbuhnya.
Untuk target penjualan sepanjang 2026, Suryacipta Swadaya menargetkan seluruh sisa lahan seluas 14 hektare di kawasan Suryacipta City of Industry, Karawang dapat terserap.
Setelah itu, fokus penjualan akan sepenuhnya dialihkan ke Subang Smartpolitan dengan target marketing sales mencapai 60 hektare.
Sepanjang kuartal I/2026, SSIA melalui anak usahanya, PT Suryacipta Swadaya (SCS) mencatat penjualan pemasaran lahan industri sebesar 8,2 hektare dengan nilai Rp169,1 miliar dari kawasan Suryacipta Karawang dan Subang Smartpolitan, meningkat 105% dibandingkan 4 hektare atau sekitar Rp88 miliar pada kuartal yang sama tahun lalu.
Investor EV hingga Data Center MendominasiDari sisi sektor, Abednego mengungkapkan permintaan investasi saat ini masih didominasi industri otomotif, terutama ekosistem kendaraan listrik (EV) beserta industri komponen pendukungnya.
Selain itu, Suryacipta juga mencatat tingginya minat dari sektor alat berat, elektronik, pusat data atau data center, pergudangan, hingga infrastruktur digital seperti fiber optic.
Mayoritas permintaan tersebut berasal dari investor asal China dan Korea Selatan. Sementara itu, minat investasi dari Jepang dan Taiwan juga masih menunjukkan tren positif.
Ia optimistis prospek investasi ke depan tetap menjanjikan, terutama karena kawasan industri yang dikelola perseroan memiliki konektivitas yang semakin baik.
Memasuki paruh kedua tahun ini, perseroan akan memperkuat strategi pemasaran melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perbankan, trading house, pengelola pelabuhan, hingga pemerintah.
Dalam waktu dekat, Suryacipta juga akan menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan salah satu bank internasional untuk memperluas jaringan pemasaran sekaligus menarik lebih banyak investor dari kawasan Asia.
Di sisi lain, perseroan akan terus mempercepat pembangunan infrastruktur di dalam maupun menuju kawasan industri agar efisiensi operasional tenant dapat terus meningkat dan daya saing kawasan tetap terjaga.






Komentar (0)