Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memastikan pengembangan Lapangan Abadi Blok Masela langsung dimulai usai groundbreaking proyek LNG Abadi Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7/2026). Tahap awal proyek akan diawali dengan pengeboran 15 sumur pengembangan sebagai bagian dari proyek migas yang telah tertunda selama 28 tahun.
Menurut Bahlil, dimulainya pembangunan proyek tersebut menjadi tonggak penting untuk meningkatkan ketahanan energi sekaligus mendongkrak lifting minyak dan gas nasional.
"Dengan penandaan groundbreaking hari ini, pekerjaan ini langsung mulai berjalan. Yang pertama adalah 11 sumur pengembangan ditambah 4 sumur lanjutan. Yang kedua, pembangunan berbagai macam fasilitas, termasuk pelabuhan, dermaga, dan EPC-nya, ini langsung berjalan," kata Bahlil.
Lapangan Abadi Blok Masela memiliki cadangan gas terbukti sebesar 6,97 triliun kaki kubik (TCF). Proyek Strategis Nasional (PSN) ini dikembangkan melalui skema Cost Recovery PSC dengan nilai investasi mencapai US$20,9 miliar.
Struktur kepemilikan proyek terdiri dari INPEX Masela Ltd sebesar 65%, Pertamina Hulu Energi Masela 20%, dan PETRONAS Masela 15%.
Proyek tersebut dirancang memproduksi LNG sebesar 9,5 juta ton per tahun (MTPA), gas pipa domestik sebesar 150 MMSCFD, serta kondensat sekitar 35.000 barel per hari.
Pengembangan Lapangan Abadi meliputi pembangunan 15 sumur pengembangan (11 sumur utama dan 4 sumur lanjutan), fasilitas bawah laut (Subsea Umbilicals, Risers and Flowlines/SURF), Floating Production Storage and Offloading (FPSO), Gas Export Pipeline, kilang Onshore LNG, hingga fasilitas Carbon Capture and Storage (CCS).
Kilang LNG sendiri akan dibangun di Desa Lermatang, Pulau Yamdena, Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Bahlil mengatakan pemerintah akan mengutamakan pemanfaatan gas untuk kebutuhan nasional. Pada tahap awal pengembangan, pemerintah menetapkan minimal 60% produksi gas dialokasikan untuk pasar domestik dan maksimal 40% untuk ekspor.
"Ini menghasilkan 9,5 juta ton LNG per tahun atau setara dengan 120 MM dan 35.000 barel kondensat per hari. Ini dalam rangka meningkatkan lifting kita. Dan saya pikir nanti gasnya yang sudah kita lakukan, Bapak Presiden, 60% minimal untuk memenuhi kebutuhan domestik dan 40% maksimal untuk kita melakukan ekspor," ujarnya.
Pupuk Dapat Harga US$6-7/MMBTU
Selain mengungkap skema alokasi gas, Bahlil juga membocorkan kisaran harga yang akan diterima pembeli domestik pertama dari Blok Masela.
Ia mengatakan PT Pupuk Indonesia akan memperoleh pasokan gas dengan kisaran harga US$6-7 per MMBTU. Sementara itu, harga gas untuk PT Perusahaan Gas Negara (PGN) dan PT PLN (Persero) masih dalam tahap pembahasan.
"Harga gasnya lagi negosiasi, tergantung ya. Yang jelas, untuk pupuk itu kemarin kita sudah dapat kurang lebih sekitar 6-7 dolar per MMBTU," kata Bahlil.
Di sisi lain, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menjelaskan harga komersial gas dari Blok Masela baru akan ditetapkan setelah proyek mencapai Final Investment Decision (FID). Saat itu seluruh komponen biaya proyek dan kontrak penjualan, termasuk harga LNG ekspor, akan dihitung.
"Kan kita tahu FID itu ketika tahu cost-nya kan? Kemudian harga gasnya juga sudah semua nanti, kan antara LNG export harganya beda-beda tipis lah... 12,5 [dolar AS] gitu ya," kata Djoko.
Komitmen penyerapan gas domestik merupakan tindak lanjut dari penandatanganan tiga Heads of Agreement (HoA) antara INPEX Masela Ltd dengan PGN, PLN, dan Pupuk Indonesia pada ajang IPA Convention and Exhibition 2025.
Dalam kesepakatan tersebut, PLN melalui Subholding PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mengamankan komitmen pasokan LNG selama 15 tahunsejak proyek memasuki tahap Commercial Operation Date (COD) yang ditargetkan pada 2032.
Baca Juga: Bos INPEX Sebut Proyek LNG Masela Bakal Sumbang US$137,7 Miliar ke RI
Baca Juga: Bahlil Pastikan Masyarakat Tanimbar Jadi Prioritas Utama Tenaga Kerja Proyek LNG Masela
Baca Juga: Bahlil Sebut Proyek LNG Masela Berpotensi Setor US$37,8 Miliar ke Negara
Total volume pasokan diproyeksikan mencapai 37,5 juta ton LNGatau setara sekitar 640 kargo LNG.
Berdasarkan fact sheet pemerintah, progres Front End Engineering Design (FEED) proyek telah mencapai 79,56%, sedikit lebih cepat dibanding target 79,15%. Pemerintah menargetkan Final Investment Decision (FID) dapat dicapai pada Desember 2026.
Kajian LPEM FEB UI memperkirakan proyek LNG Abadi Masela akan menjadi salah satu penggerak ekonomi terbesar di kawasan timur Indonesia. Hingga 2055, proyek ini diproyeksikan berkontribusi terhadap PDB nasional sebesar US$137,7 miliar, menyerap sekitar 12.000 tenaga kerja langsung pada masa konstruksi dan sekitar 850 tenaga kerja langsung saat fase operasi.
Selain itu, proyek diperkirakan menghasilkan pendapatan langsung sekitar US$37,85 miliar hingga akhir masa kontrak bagi hasil (PSC) pada 2055.






Komentar (0)