TABLOIDBINTANG.COM - Regina Art menghadirkan pertunjukan teater musikal Fantasy Land sebagai bagian dari upaya menciptakan ruang seni yang lebih inklusif bagi anak-anak. Pementasan yang digelar dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional ini tidak hanya menyuguhkan hiburan, tetapi juga membawa pesan tentang penerimaan terhadap anak-anak dengan spektrum autisme.
Pendiri Regina Art sekaligus penulis naskah Fantasy Land, Joane Win, mengatakan dunia seni pertunjukan seharusnya dapat dinikmati oleh seluruh anak tanpa memandang kondisi mereka.
"Dunia imajinasi dan keajaiban seni teater seharusnya menjadi mudah diakses dan bisa dinikmati oleh semua anak tanpa terkecuali ya," ujar Joane Win dalam konferensi pers, Kamis (16/7).
Menurut Joane, anak-anak dengan spektrum autisme membutuhkan lingkungan yang menerima mereka apa adanya. Karena itu, Fantasy Land dirancang sebagai ruang yang mampu memberikan rasa aman sekaligus mendorong mereka menikmati pengalaman teater dengan nyaman.
"Anak-anak autis, mereka selalu memulai persahabatan biasanya dengan satu dasar yaitu pendekatan dan penerimaan tanpa batas. Yang mereka perlukan itu bukan kata-kata yang rumit ya, yang mereka perlukan adalah lingkungan yang mau mengerti," tutur Joane.
Ia mengungkapkan, ide menghadirkan Fantasy Land lahir dari kepeduliannya terhadap berbagai persoalan sosial yang selama ini menjadi perhatian Regina Art. Setelah mengangkat isu kekerasan terhadap perempuan dan kesehatan mental, timnya mulai menyoroti kehidupan anak-anak autis.
"Awalnya kami menyampaikan suara perempuan yang mengalami kekerasan, lalu mental illness, dan kemudian kami mulai mengamati juga tentang kasus-kasus pada anak-anak autis. Dan kemudian saya mulai menulis tentang itu, terlahirlah Fantasy Land ini," ungkapnya.
Pertunjukan yang akan berlangsung di Galeri Indonesia Kaya pada 18 Juli 2026 tersebut juga dipersiapkan sebagai ruang yang ramah sensorik. Regina Art berharap setiap anak dapat menikmati pertunjukan tanpa rasa khawatir dan merasa diterima.
"Kami berkomitmen penuh akan memberikan ruang pertunjukan yang aman, nyaman, dan terbuka bagi semua anak-anak, khususnya juga untuk anak-anak autis. Kami percaya semua orang yang hadir akan diterima dan dihargai," tegas Joane.
Sementara itu, sutradara Fantasy Land, Kemal Ferdiansyah, menegaskan bahwa setiap anak berhak mendapatkan kebebasan untuk berekspresi dan berimajinasi. Menurutnya, anak-anak harus diperlakukan sebagai individu yang merdeka, apa pun kondisi mereka.
"Anak-anak itu harus tetap diperlakukan sebagai manusia yang merdeka. Sekecil apa pun mereka, anak-anak itu harus tetap diberikan ruang untuk bisa bergerak ke mana pun dalam penjagaan yang bagus," pungkas Kemal.





Komentar (0)