JAKARTA, KOMPAS.com - Laptop, tablet, printer, skincare, hingga sepatu menjadi deretan barang yang paling sering dibeli anak muda menggunakan layanan buy now pay later (BNPL) atau PayLater.
Bagi sebagian generasi muda, PayLater bukan lagi sekadar fasilitas pembayaran digital, melainkan menjadi cara untuk menjembatani kebutuhan yang harus dipenuhi saat ini dengan pendapatan yang baru diterima pada bulan berikutnya.
Di tengah tingginya biaya hidup dan pendapatan yang belum selalu stabil, layanan cicilan instan ini semakin banyak dimanfaatkan, terutama oleh mahasiswa maupun pekerja lepas yang membutuhkan fleksibilitas dalam mengatur arus kas.
Namun, di balik kemudahannya, akses kredit digital juga memunculkan kekhawatiran terhadap meningkatnya utang konsumtif di kalangan anak muda.
Baca juga: Sosiolog: Putus Siklus Doom Spending Lewat Literasi Keuangan dan Regulasi Paylater
Salah satu pengguna PayLater adalah Dinda (21), mahasiswi semester enam asal Jakarta Timur yang berkuliah di Depok. Ia mulai menggunakan Shopee PayLater sekitar dua tahun lalu, saat masih duduk di semester empat.
Awalnya, ia mengaktifkan fitur tersebut karena sering berbelanja di platform e-commerce itu.
"Saya mulai pakai Shopee PayLater sekitar dua tahunan. Dulu saya pikir mungkin enggak bakal dipakai sering, ternyata lama-lama kepakai juga," kata Dinda kepada Kompas.com melalui sambungan telepon, Kamis (16/7/2026).
Meski menggunakan fasilitas kredit digital, Dinda menegaskan alasannya bukan karena kondisi ekonomi keluarga.
Menurut dia, orangtuanya masih mampu membiayai kuliah dan kebutuhan pokok sehari-hari.
Namun, ia merasa tidak nyaman jika harus terus-menerus meminta uang tambahan ketika muncul kebutuhan di luar biaya rutin.
"Kalau dibilang karena ekonomi keluarga susah sih enggak juga. Orangtua saya masih mampu membiayai kuliah. Cuma saya tipe yang enggak enakan kalau harus sering minta uang tambahan," ujar dia.
Baca juga: Korban Jambret di Benhil Rugi Rp 19 Juta, Termasuk Limit Paylater yang Dikuras Pelaku
Karena itu, PayLater menjadi solusi sementara saat harus membeli kebutuhan kuliah, perlengkapan belajar, atau ketika perangkat penunjang kuliah mengalami kerusakan.
Dinda biasanya memanfaatkan limit Rp 500.000 hingga Rp 1,5 juta untuk membeli buku kuliah, skincare, sepatu, tas, hingga printer kecil guna mengerjakan tugas.
"Biasanya buat beli kebutuhan kuliah, skincare, kadang sepatu atau tas kalau memang sudah benar-benar perlu diganti," tutur Dinda.
Nominal tersebut umumnya dicicil selama tiga bulan. Saat terakhir menggunakan PayLater untuk transaksi sekitar Rp 1,2 juta, ia membayar cicilan sekitar Rp 430.000 per bulan setelah ditambah biaya lainnya.
Dinda mengaku selalu berusaha membayar tepat waktu agar terhindar dari denda maupun catatan kredit yang buruk.
Baca juga: Tanda Penggunaan Paylater Tak Lagi Sehat dan Tips Bijak agar Tak Terjerat Utang
Menariknya, ia juga bekerja sebagai freelancer desain grafis dan admin media sosial UMKM.
Pendapatan dari pekerjaan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus membayar cicilan.
"Saya memang dari awal kalau pakai PayLater sudah menghitung dulu kira-kira bulan depan sanggup bayar atau enggak. Saya berusaha jangan sampai pinjam hanya karena lapar mata," katanya.






Komentar (0)