SLBN 02 Jakarta Bekali Siswa Disabilitas dengan Sembilan Program Vokasi untuk Siap Masuk Dunia Kerja

pantau.com
5 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 02 Jakarta membekali siswa penyandang disabilitas dengan sembilan program keterampilan vokasi sebagai upaya mempersiapkan mereka memasuki dunia kerja melalui pelatihan yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SLBN 02 Jakarta Dewi Januarti mengatakan sekolah menyediakan sembilan bidang keterampilan, yakni batik, tata boga, sablon, perbengkelan motor, suvenir, tata busana, tata graha, TIK, dan hortikultura.

Ia mengungkapkan, "Kita punya sembilan keterampilan. Itu tergantung anaknya mau pilih apa. Ada yang dari orang tuanya dan ada yang gurunya menempatkan, karena kita melihat kemampuannya."

Pelatihan vokasi dijadwalkan bagi siswa SMP setiap Selasa dan Kamis, sedangkan siswa SMA mengikuti pelatihan pada Senin, Rabu, dan Jumat.

Dewi juga mengatakan, "Pelatihnya dari guru sendiri. Guru SLB harus serba bisa. Ngajar, iya, keterampilan, iya."

Program Vokasi Disesuaikan dengan Potensi Siswa

Melalui program tersebut, sekolah berharap para siswa memiliki keterampilan yang dapat menjadi bekal untuk hidup mandiri dan bekerja setelah lulus.

Menurut Dewi, lulusan SLBN 02 Jakarta telah bekerja di berbagai sektor, seperti hotel, supermarket, hingga usaha penjahitan seragam guru.

SLBN 02 Jakarta saat ini membimbing sebanyak 230 siswa penyandang disabilitas dengan fokus mengembangkan kemampuan akademik dan keterampilan vokasional.

Pelatihan Membatik Hadapi Tantangan Komunikasi dan Mood Siswa

Guru seni SLBN 02 Jakarta Astri Pebriyanti mengatakan tantangan terbesar dalam pelatihan membatik adalah menjaga komunikasi dan suasana hati para siswa selama proses belajar yang berlangsung cukup lama.

Ia mengungkapkan, "Terutama, komunikasi dan menjaga mood mereka. Membatik itu capek, dari jam 07.30 sampai 14.00 WIB. Tantangannya, bagaimana supaya mereka tidak bosan dan tidak capek."

Astri menjelaskan proses pembuatan batik tulis dimulai dari membuat gambar di kertas, memindahkannya ke kertas roti dan kain, kemudian melalui proses mencanting, pewarnaan berulang, penutupan lilin, pencucian, pengeringan, hingga pewarnaan kembali yang dapat memakan waktu hingga tiga bulan jika dikerjakan rutin tiga kali dalam sepekan.

Hasil karya batik siswa telah dipamerkan dan dipasarkan dengan harga mulai Rp200.000 untuk batik ciprat, sedangkan batik tulis dijual antara Rp200.000 hingga Rp400.000.

Ia mengatakan, "Paling murah Rp200.000 untuk batik ciprat. Kalau batik tulis antara Rp200.000 sampai Rp400.000, karena memang pengerjaannya lama dan murni buatan anak-anak sendiri."

Astri juga berharap semakin banyak dunia industri yang memberikan kesempatan kerja kepada penyandang disabilitas.

Ia menambahkan, "Saya juga berharap ada industri yang mau merekrut anak-anak berkebutuhan khusus ini untuk bekerja di tempat mereka."


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
KRI Bima Suci Gelar Open Ship, Tumbuhkan Jiwa Bahari Siswa SMP Hang Tuah Manado
• 15 jam lalu
0
thumb
Cegah Kebakaran, DLHK Depok Bakal Siram TPA Cipayung 2 Kali Sehari
• 5 jam lalu
0
thumb
Polri Ungkap Alasan Febri Adriansyah Jadi Tersangka meski Belum Diperiksa
• 3 jam lalu
0
thumb
Kawal Aksi Massa di Monas, Polda Metro Tekankan Pelayanan Humanis
• 7 jam lalu
0
thumb
Menteri P2MI ‘Geregetan’ Maraknya Kasus TPPO, Usul Bentuk Gakkum di Kementerian
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.