Wapres JD Vance Tuding Pejabat Israel Coba Gagalkan Perdamaian AS - Iran

katadata.co.id
7 jam lalu
Cover Berita

Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance mengatakan sejumlah anggota pemerintahan Israel berupaya mempengaruhi opini publik Amerika agar menolak kesepakatan yang ditempuh Washington untuk mengakhiri perang dengan Iran. Pernyataan itu disampaikan Vance dalam podcast bersama Joe Rogan yang dipublikasikan pada Rabu (15/7).

Dalam wawancara itu, Vance membela kesepakatan yang dicapai AS dengan Iran pada bulan lalu untuk mengakhiri perang. Kesepakatan tersebut menuai kritik di AS maupun Israel karena dinilai gagal membatasi program rudal Iran dan tidak memberikan peta jalan yang jelas untuk membongkar fasilitas nuklir Teheran.

Sejumlah pihak juga menilai kesepakatan itu membatasi ruang gerak Israel dalam menghadapi kelompok Hizbullah di Lebanon. "Saya tahu tanpa sedikitpun keraguan bahwa ada orang-orang di dalam pemerintahan Israel yang benar-benar berusaha mengalihkan kami dari kebijakan tersebut karena mereka ingin melanjutkan kampanye militer," kata Vance, dikutip dari Reuters pada Jumat (17/6).

Vance mengatakan dirinya memiliki hubungan yang baik dengan beberapa pejabat Israel. Namun, ia meyakini ada pihak-pihak di dalam pemerintahan negara tersebut yang berusaha memanipulasi opini publik Amerika agar perang terus berlanjut tanpa batas waktu.

Menurut Vance, hampir semua negara, baik sekutu maupun lawan AS, berusaha mempengaruhi kebijakan Washington. Ia menilai praktik tersebut merupakan hal yang lazim dalam politik internasional.

"Saya tidak terganggu jika Israel melakukan hal itu. Terus terang, saya juga tidak terganggu jika Rusia atau negara-negara lain melakukannya. Begitulah dinamika menjadi pemimpin politik pada 2026," ujarnya.

Meski demikian, Vance menegaskan bahwa kampanye pengaruh dari negara asing menjadi persoalan ketika mampu mempengaruhi proses pengambilan keputusan politik di AS.

"Yang mengganggu saya adalah ketika operasi-operasi tersebut, kampanye-kampanye pengaruh itu, benar-benar mempengaruhi pertimbangan politik Amerika," kata Vance.

Pada Juni lalu, Vance juga melontarkan kritik kepada pihak-pihak di Israel yang menentang kesepakatan dengan Iran. Saat itu, ia menyatakan Presiden AS, Donald Trump, merupakan sekutu utama Israel. Vance mengatakan hal itu sembari menyinggung besarnya bantuan pertahanan yang setiap tahun diberikan Washington kepada negara tersebut.

Di sisi lain, sejumlah pejabat senior Israel yang berbicara dengan syarat anonim menyatakan kesepakatan tersebut tidak mengakomodasi kepentingan keamanan Israel. Mereka menilai perjanjian itu gagal mengatasi ancaman program nuklir dan rudal balistik Iran. Menurut mereka, pandangan tersebut juga dianut secara luas oleh para pemimpin Israel.

Ketika ditanya apakah AS akan tetap terlibat dalam perang terbaru melawan Iran tanpa adanya pengaruh dari Israel, Vance menjawab, "Ya, saya pikir begitu."

Meski demikian, Vance menegaskan Presiden Trump tetap meyakini Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, terlepas dari pengaruh negara mana pun.

"Saya pikir presiden, terlepas dari pengaruh apa pun dari Israel, sangat meyakini—dan saya juga sependapat—bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir," ujarnya.

Hingga laporan ini diterbitkan, Kantor Perdana Menteri Israel belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters.

Dalam kesempatan yang sama, Vance juga mengaku frustasi terhadap pandangan sebagian warga Amerika dan pihak lain yang menilai Iran tidak bisa diajak berunding. Pernyataan itu muncul meskipun Trump pada pekan lalu menyebut Iran sebagai "pembohong dan sampah" serta mengatakan bahwa bernegosiasi dengan Teheran hanya membuang-buang waktu.

Menanggapi kesan adanya perbedaan pernyataan antara Trump dan Vance, Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan kedua pernyataan tersebut disampaikan pada fase yang berbeda dalam konflik sehingga tidak saling bertentangan.

"Presiden dan wakil presiden memiliki pandangan yang sama persis mengenai posisi kita saat ini dalam konflik ini," kata Leavitt dalam konferensi pers.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pembayaran Restitusi Jauh dari Harapan, Dana Bantuan Korban Kian Mendesak
• 37 menit lalu
0
thumb
Infografis Spanyol vs Argentina, Final Bersejarah Piala Dunia 2026
• 57 menit lalu
0
thumb
Inggris Desak FIFA Selidiki Aksi Argentina yang Bentangkan Spanduk Kepulauan Falkland di Piala Dunia
• 7 menit lalu
0
thumb
Peneliti Antikorupsi Tak Ragukan Kapasitas Tim 9 Bentukan Kejagung: Tapi Apakah Mampu Independen
• 13 jam lalu
0
thumb
Massa Aksi Demo Bubarkan Diri, Jalan Medan Merdeka Selatan Kembali Dibuka
• 32 menit lalu
0
Berhasil disimpan.